Presiden Gerakan Oposisi: Pemilu Manipulatif, Pemenangnya Sudah Diatur Elite

  • Bagikan
Presiden Gerakan Oposisi, Syukur Mandar
Presiden Gerakan Oposisi, Syukur Mandar

MoneyTalk.id,Jakarta – Presiden Gerakan Oposisi, Syukur Mandar, melontarkan kritik tajam terhadap kondisi politik dan demokrasi di Indonesia. Ia menilai kritik terhadap kekuasaan tidak dapat serta-merta dimaknai sebagai bentuk ketidaksetujuan terhadap Presiden.

Menurut Syukur, mengoreksi jalannya pemerintahan justru merupakan bagian dari upaya mendorong Presiden melakukan pembaruan dan perubahan yang lebih besar.

“Kalau saya mengoreksi kekuasaan, bukan berarti saya tidak dukung Presiden. Kalau saya tidak dukung Presiden, lalu saya dukung siapa?” kata Syukur di channel YouTube Sinkos, Minggu (6/9/2026).

Ia menegaskan, kritik terhadap pemerintah harus dipandang sebagai dorongan agar pemegang kekuasaan menjalankan tanggung jawabnya secara maksimal.

“Presiden memegang kekuasaan. Oleh karena itu, Presidenlah yang harus melakukan pembaharuan dan perubahan besar terhadap ini,” ujarnya.

Syukur juga mengkritik anggapan bahwa masyarakat hanya bisa mengubah keadaan melalui pemilu. Menurutnya, nasib bangsa tidak seharusnya digantungkan sepenuhnya pada keputusan elite politik maupun menunggu momentum pemilu berikutnya.

“Itu nasib kita enggak boleh digantungkan atas kehendak elite bahwa kalau Anda enggak setuju, tunggu saja pemilu. Enggak bisa,” tegasnya.

Lebih jauh, Syukur melontarkan tudingan keras terhadap sistem pemilu yang menurutnya tidak memberikan perubahan mendasar. Ia bahkan menyebut pemilu hanya menjadi sarana untuk mempertahankan konfigurasi kekuasaan yang sudah ada.

“Pemilu kita itu hanya registrasi ulang kekuasaan. Pemilunya manipulatif. Pemainnya itu-itu saja. Mereka sudah atur pemenangnya,” katanya.

Atas pandangan tersebut, Syukur mengaku tidak menaruh harapan besar terhadap perubahan mendasar yang hanya mengandalkan mekanisme elektoral.

Bagi Syukur, persoalan utama yang menyebabkan kerusakan dalam kehidupan bernegara justru terletak pada elite politik. Karena itu, ia mendorong Presiden untuk tidak berhenti pada pernyataan dan wacana, tetapi segera mengambil tindakan nyata.

“Bagi saya kerusakan republik ini pintu masuk adalah elite politik,” ujarnya.

Syukur juga menyampaikan pesan langsung kepada Presiden agar lebih banyak bekerja dibandingkan berbicara mengenai berbagai agenda perubahan.

“Saya ingin mengatakan, Pak Presiden, jangan terbanyak ngomong. Kerjakan apa yang harus dikerjakan hari ini,” kata Syukur.

Menurutnya, perubahan tidak dapat terus ditunda dengan alasan menunggu momentum politik berikutnya. Presiden, kata dia, memiliki kewenangan untuk mengambil langkah konkret selama masa pemerintahannya.

“Kerjakan apa yang harus dikerjakan hari ini. Itu yang saya maksud,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *