Polisi Sudah Terlalu Kuat Secara Militer, Tapi Lemah Melayani Rakyat

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Pernyataan tajam kembali keluar dari pengusaha dan pemikir nasional Mardigu Wowiek alias Bossman Mardigu. Dalam tayangan terbarunya di kanal YouTube, Rabu (8/10), Mardigu menyoroti tajam kondisi reformasi di tubuh Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang menurutnya hanya “kulit” tanpa perubahan nilai.

“Kita semua ingin tidak ada lembaga superbody di negeri ini. Baik MPR, DPR, TNI maupun Polri harus seimbang. Tapi sayangnya, Polri tidak pernah benar-benar mengalami reformasi sejak 1998,” kata Mardigu membuka narasinya.

Menurutnya, yang terjadi selama ini hanyalah pemisahan kelembagaan dari militer, bukan transformasi nilai. “Nilai-nilai militer pada era Orde Baru masih terbawa sampai sekarang. Reformasi tidak menghasilkan demokrasi, hanya memindahkan struktur,” tegasnya.

Polisi Masih Jadi Alat Kekuasaan

Lebih lanjut, Mardigu menyoroti bahwa Polri yang seharusnya menjadi bagian dari masyarakat sipil justru berubah arah menjadi alat kekuasaan politik.

“Dalam sepuluh tahun terakhir, kepolisian dipakai menjadi alat politik. Ini yang membuat rakyat kecewa. Bukannya melindungi masyarakat, malah menjadi pemain di pemilu dan Pilpres,” ungkapnya.

Ia menilai demokrasi seharusnya memberi rasa nyaman bagi rakyat, bukan sekadar rasa aman. “Kalau setiap gang dijaga polisi, mungkin aman, tapi rakyat tidak nyaman. Demokrasi itu mengutamakan kenyamanan lebih dulu daripada keamanan,” ujarnya tajam.

Brimob Sudah Tak Relevan di Polri

Salah satu bagian paling berani dalam pernyataan Mardigu adalah usul reposisi besar terhadap Brimob.

“Brimob itu pasukan perang, bukan pasukan pengayom masyarakat. Mereka punya persenjataan bahkan lebih canggih dari TNI. Jadi letakkan saja Brimob di bawah Kementerian Pertahanan atau sekalian masuk TNI AD,” usulnya.

Menurutnya, kondisi saat ini membuat Polri justru terlalu kuat secara militer, tetapi lemah dalam pelayanan. “Kalau dibiarkan, Polri makin arogan. Semangat reformasi 1998 itu jelas: pisahkan militer dan polisi. Tapi sekarang malah kabur batasnya,” kata Mardigu.

Isyarat Politik: Dua Presiden Tak Salami Kapolri

Menariknya, Mardigu juga menyinggung momen viral yang ramai dibicarakan: Prabowo Subianto dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang tidak menyalami Kapolri dalam dua kesempatan berbeda.

“Apakah itu sekadar kelupaan manusiawi, atau simbol keras terhadap arah Polri hari ini?” tanya Mardigu kepada para penontonnya.

Ia pun menutup dengan nada reflektif, “Kritik ini bukan kebencian, tapi cinta terhadap republik. Kita ingin Polri yang kuat melayani rakyat, bukan menakutinya.”

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *