Amran Janji di Istana: ‘Target 4 Tahun Jadi 1 Tahun, Kita Buktikan Sekarang!

  • Bagikan
Ilustrasi Beras- Foto: jcomp/Freepik

MoneyTalk, Jakarta – Menteri Pertanian Republik Indonesia, Amran Sulaiman, tampil penuh keyakinan seusai mengikuti rapat terbatas (ratas) bersama Presiden di Istana Negara. Dalam pernyataannya, Amran menyampaikan klaim mengejutkan  Indonesia bakal berhenti impor beras dalam waktu dua hingga tiga bulan ke depan.

“Target Presiden awalnya empat tahun, lalu berubah jadi tiga tahun, dan terakhir satu tahun. Alhamdulillah, mudah-mudahan tidak ada aral melintang, dua sampai tiga bulan lagi Indonesia tidak impor beras lagi,” tegas Amran disambut tepuk tangan para hadirin.

Ia menegaskan capaian tersebut bukan sekadar janji politik, tapi hasil nyata dari lonjakan produksi nasional. “Produksi kita tahun ini mencapai 33,1 juta ton, dan di akhir tahun diperkirakan 34 juta ton. Tahun lalu hanya 30 juta ton. Artinya naik 4 juta ton,” ujarnya.

Tak hanya itu, Amran juga menyebut terjadi deflasi beras sebesar -0,13% di bulan September, sesuatu yang disebutnya belum pernah terjadi selama lima tahun terakhir, apalagi di masa paceklik. “Ini sejarah baru, data BPS jelas menunjukkan penurunan harga,” tegasnya sambil memamerkan data di layar.

Menurut Amran, FAO (Organisasi Pangan Dunia) bahkan memprediksi kenaikan produksi beras Indonesia sebagai nomor dua terbesar di dunia.

“Dan nilai tukar petani (NTP) kita juga naik tajam, mencapai 124,36%, jauh di atas target Kementerian Keuangan sebesar 110%. Ini bukti nyata kesejahteraan petani meningkat,” ujarnya bangga.

Amran juga menyinggung agenda besar hilirisasi sektor pertanian. Ia menegaskan pemerintah kini tengah mengakselerasi pengolahan komoditas seperti kakao, mente, kelapa dalam, dan lada.

“Khusus kelapa dalam, kita ekspor 2,8 juta ton per tahun dengan nilai Rp24 triliun. Tapi nanti tidak lagi dijual mentah. Kita hilirisasi jadi coconut milk dan VCO,” jelasnya.

Menurutnya, bila hilirisasi dijalankan penuh, potensi nilai tambahnya bisa mencapai Rp2.400 triliun.

Amran juga menyoroti potensi gambir, yang selama ini dikuasai Indonesia hingga 80% pasar dunia. “Gambir bisa jadi tinta pemilu, bahan kosmetik, hingga shampoo. Kita mau olah di dalam negeri. Jangan lagi bahan mentah dikirim keluar,” tegasnya.

Untuk komoditas strategis lain seperti sawit, ia menegaskan pemerintah akan mengambil peran dominan. “Sawit dikuasai pemerintah. Kita hilirisasi jadi biofuel, minyak goreng, hingga margarin. Edit videonya, produksinya, semua harus di Indonesia,” tegas Amran lantang.

Dalam sesi tanya jawab, Amran membeberkan langkah menuju energi hijau berbasis pertanian.

“Kita produksi CPO 46 juta ton, 20 juta diolah di dalam negeri, 26 juta diekspor. Nanti 5,3 juta ton kita tarik untuk biofuel B50. Artinya, impor solar bisa kita hentikan,” jelasnya.

Ia juga mengklaim Indonesia bakal menjadi pengendali harga CPO dunia.

“Kita produsen nomor satu, 60% CPO dunia dari Indonesia. Jadi kitalah yang harus menentukan harga, bukan negara lain,” tegasnya.

Untuk bioetanol, ia menyebut proyek besar di Merauke tengah dikebut menuju target 2027. “Kita tanam tebu, singkong, ubi kayu untuk etanol. Setiap pulau akan mandiri pangan dan energi. Tidak lagi saling bergantung,” jelasnya optimistis.

Amran juga mengklaim reformasi besar-besaran dalam distribusi pupuk.

“Dulu 145 regulasi harus dilewati, sekarang cuma tiga langkah: dari Kementan ke produsen, lalu langsung ke petani. Hasilnya? Tak ada lagi teriakan ‘pupuk langka’,” katanya disambut tawa wartawan.

Selain itu, program perbaikan irigasi nasional seluas dua juta hektar juga tengah berjalan. “Kita ambil alih sekat antarprovinsi, biar tidak ada lagi konflik irigasi,” jelasnya.

Amran juga membanggakan stok beras nasional tertinggi sepanjang sejarah Indonesia mencapai 4,2 juta ton.

“Memang ada 30 ribu ton rusak, tapi itu hanya 0,07%! Jangan fokus pada 0,07, lihat 99,8% yang berhasil. Ini sejarah, pertama kali stok tertinggi sejak Indonesia merdeka,” tegasnya.

“Ini bukan keberhasilan saya, tapi keberhasilan petani Indonesia. Bangsa besar adalah bangsa yang berani menghadapi tantangan, bukan yang takut dengan ancaman.”

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *