MoneyTalk, Jakarta – Aktivis Nahdlatul Ulama, Umar Hasibuan atau yang dikenal sebagai Gus Umar, melontarkan kritik tajam terhadap Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf. Kritik tersebut disampaikan menyusul penangkapan adik Yahya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Melalui unggahan di media sosial, Gus Umar menyinggung dukungan politik yang selama ini diberikan Yahya Staquf kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia menyebut dukungan tersebut tidak memberi dampak apa pun terhadap nasib keluarga Yahya ketika berhadapan dengan proses hukum.
“Sudah capek Ketua Umum PBNU Yahya Staquf dukung Prabowo, hasilnya adiknya ditangkap juga oleh KPK. Parahnya korupsi rukun Islam pula,” tulis Gus Umar dalam pernyataannya yang kemudian ramai diperbincangkan di media sosial, Selasa (17/3/2026).
Pernyataan tersebut memicu beragam reaksi publik, terutama di kalangan warga nahdliyin. Sebagian menilai kritik Gus Umar sebagai bentuk kekecewaan terhadap elite organisasi keagamaan yang dinilai terlalu dekat dengan kekuasaan. Namun tidak sedikit pula yang menilai pernyataan itu terlalu menyederhanakan persoalan hukum yang sedang berjalan.
Seperti diketahui, KPK tengah mengusut dugaan kasus korupsi kuota haji yang melibatkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Penanganan perkara ini mendapat sorotan luas karena menyangkut aspek ibadah yang dianggap sakral.
Di sisi lain, hingga kini pihak PBNU belum memberikan pernyataan resmi yang merespons langsung kritik yang dilontarkan Gus Umar. Sikap organisasi masih menunggu perkembangan proses hukum yang sedang berjalan di KPK.
Kasus yang menyeret keluarga pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini pun diperkirakan akan terus menjadi perhatian publik dalam beberapa waktu ke depan. Selain menyangkut isu korupsi, polemik ini juga membuka diskursus lebih luas mengenai integritas elite organisasi keagamaan di tengah kedekatan mereka dengan kekuasaan politik.





