Gus Umar: Apa Hasil Diplomasi Keliling Prabowo? 

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Aktivis Nahdlatul Ulama, Umar Hasibuan (Gus Umar), melontarkan kritik tajam terhadap rangkaian kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya belum menunjukkan hasil konkret bagi kepentingan rakyat.

Dalam pernyataannya yang beredar di media sosial, Gus Umar mempertanyakan capaian nyata dari diplomasi keliling dunia yang dilakukan Prabowo sejak menjabat sebagai presiden. Ia menyindir bahwa intensitas kunjungan ke berbagai negara belum sebanding dengan dampak langsung yang dirasakan masyarakat.

“Banyak keliling dunia, tapi hasilnya apa? Ada yang bisa disebutkan secara konkret untuk rakyat?” ujar Gus Umar, Senin (30/3/2026).

Sejak awal masa kepemimpinannya, Prabowo aktif melakukan kunjungan ke sejumlah negara strategis seperti Jepang, Korea Selatan, hingga kawasan Timur Tengah dan Eropa. Diplomasi tersebut difokuskan pada kerja sama di bidang pertahanan, investasi, energi, dan pendidikan.

Beberapa agenda utama yang kerap disampaikan pemerintah antara lain:

-Penguatan kerja sama teknologi dan industri pertahanan

-Peningkatan investasi asing ke Indonesia

-Kolaborasi pendidikan dan riset

-Peran Indonesia dalam meredakan konflik global

Namun, menurut Gus Umar, narasi besar tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi hasil yang terukur di dalam negeri.

Gus Umar menilai, publik membutuhkan transparansi dan indikator keberhasilan yang jelas dari setiap kunjungan luar negeri. Ia menekankan bahwa diplomasi tidak cukup hanya sebatas penandatanganan nota kesepahaman (MoU), tetapi harus diikuti realisasi konkret.

“Kalau hanya MoU tanpa implementasi, itu bukan keberhasilan. Rakyat butuh bukti, bukan sekadar seremoni,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa di tengah kondisi ekonomi global yang tidak stabil, pemerintah seharusnya lebih fokus memastikan manfaat langsung dari setiap kerja sama internasional.

Di sisi lain, pemerintah menegaskan bahwa diplomasi yang dilakukan Prabowo merupakan investasi jangka panjang. Sejumlah pejabat menyebut bahwa hasil kerja sama internasional memang tidak selalu bisa dirasakan dalam waktu singkat, karena membutuhkan proses implementasi yang bertahap.

Diplomasi aktif Indonesia juga dinilai memperkuat posisi strategis negara di kancah global, terutama dalam menjaga stabilitas kawasan dan membuka peluang ekonomi baru.

Pernyataan Gus Umar mencerminkan dinamika kritik dari masyarakat sipil terhadap arah kebijakan luar negeri pemerintah. Kritik tersebut sekaligus menjadi pengingat agar setiap langkah diplomasi memiliki orientasi yang jelas pada kesejahteraan rakyat.

Di tengah meningkatnya peran Indonesia di panggung global, publik kini menunggu pembuktian: apakah diplomasi intensif Presiden Prabowo benar-benar akan berujung pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan nasional, atau sekadar menjadi agenda simbolik di level internasional.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *