Aktivis Muhammadiyah: Menteri Pertanian Wujudkan Swasembada Pangan di Pemerintahan Prabowo

  • Bagikan
aktivis Muhammadiyah Farid Idris

MoneyTalk, Jakarta – Aktivis Muhammadiyah Farid Idris menilai Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berhasil menunjukkan kerja nyata dalam mewujudkan swasembada pangan pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, capaian tersebut bukan sekadar klaim politik, melainkan hasil dari keberanian mengambil keputusan strategis, konsolidasi lintas sektor, serta keberpihakan nyata kepada petani sebagai tulang punggung ketahanan nasional.

Farid menegaskan, isu pangan selama ini selalu menjadi ujian utama bagi setiap pemerintahan. Ketika negara mampu menjamin ketersediaan pangan, menjaga harga tetap stabil, dan menekan ketergantungan impor, maka legitimasi pemerintahan akan semakin kuat di mata rakyat.

“Pak Amran menunjukkan bahwa swasembada pangan itu bukan slogan. Ini kerja lapangan, kerja kebijakan, dan kerja keberanian mengambil keputusan. Dalam pemerintahan Pak Prabowo, sektor pertanian menjadi prioritas strategis, dan Mentan Amran menjadi eksekutor yang sangat menentukan,” ujar Farid Idris, Rabu (29/4/2026).

Menurut Farid, langkah cepat yang dilakukan Amran terlihat dari penguatan produksi beras nasional, perbaikan irigasi, program pompanisasi, distribusi pupuk bersubsidi, hingga pembukaan lahan sawah baru. Kebijakan tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam mempercepat target swasembada yang sebelumnya diproyeksikan bertahun-tahun.

Presiden Prabowo sendiri secara resmi mengumumkan keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan nasional tahun 2025 pada 7 Januari 2026 di Karawang. Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa target yang semula direncanakan tercapai dalam empat tahun berhasil diwujudkan hanya dalam satu tahun. Ia menyebut swasembada pangan sebagai tonggak fundamental bagi kedaulatan bangsa.

Farid menilai keberhasilan itu tidak lepas dari gaya kerja Amran yang dikenal agresif, detail, dan berorientasi hasil. Ia menyebut Mentan tidak hanya bekerja di balik meja, tetapi juga turun langsung memastikan rantai produksi berjalan hingga ke tingkat petani.

“Kalau pemimpin pertanian hanya bicara teori, hasilnya tidak akan terasa. Tapi Pak Amran hadir langsung, mengecek gudang Bulog, memastikan pupuk tersedia, memperbaiki irigasi, dan mengawal harga gabah petani. Itu yang membuat kepercayaan publik tumbuh,” katanya.

Ia juga menyoroti data stok beras nasional yang disebut mencapai level tertinggi dalam sejarah. Dalam sejumlah penjelasan pemerintah, stok cadangan beras pemerintah (CBP) disebut menembus angka sekitar 5 juta ton, menjadi indikator kuat bahwa ketahanan pangan nasional sedang berada dalam fase yang jauh lebih stabil dibanding periode sebelumnya.

Farid mengatakan, ukuran swasembada tidak hanya dilihat dari produksi semata, tetapi juga dari menurunnya ketergantungan impor pangan strategis. Ia menilai langkah pemerintah menekan impor menjadi sinyal penting bahwa Indonesia mulai berdiri di atas kekuatan produksinya sendiri.

Dalam penjelasan Badan Pangan Nasional, impor pangan pokok strategis untuk kebutuhan konsumsi disebut hanya sekitar 5 persen dari total kebutuhan 11 komoditas utama, berada di bawah batas definisi swasembada pangan menurut konsensus FAO yang maksimal 10 persen. Hal ini disebut menjadi indikator bahwa Indonesia telah masuk dalam fase swasembada yang terukur.

Farid menambahkan, keberhasilan swasembada pangan juga memiliki dampak politik yang besar bagi pemerintahan Prabowo. Menurutnya, ketika masyarakat merasakan harga pangan lebih terkendali dan pasokan aman, maka kepercayaan terhadap pemerintah otomatis meningkat.

“Pangan itu isu paling sensitif. Kalau beras aman, rakyat tenang. Kalau pupuk lancar, petani senang. Kalau impor berkurang, negara lebih berdaulat. Jadi keberhasilan Pak Amran ini bukan hanya prestasi kementerian, tapi prestasi strategis pemerintahan Presiden Prabowo,” ujarnya.

Ia juga mendukung penuh terbitnya Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2026 tentang Percepatan Swasembada Pangan Bidang Pertanian. Dalam beleid itu, Presiden memberikan kewenangan besar kepada Mentan untuk mengoordinasikan BUMN sektor pertanian, agroindustri, dan logistik pangan seperti Perum Bulog, PT Pupuk Indonesia, hingga PTPN Group guna mempercepat target nasional.

Menurut Farid, kebijakan tersebut menunjukkan kepercayaan penuh Presiden kepada Amran untuk menjadi lokomotif utama agenda pangan nasional. Ia menilai keberhasilan sektor pangan tidak bisa dicapai tanpa komando yang kuat dan keberanian melakukan konsolidasi besar.

“Presiden memberi mandat besar karena beliau tahu sektor pangan tidak bisa dikelola setengah-setengah. Dan Pak Amran menjawab mandat itu dengan hasil konkret. Ini yang harus diapresiasi,” katanya.

Meski demikian, Farid mengingatkan bahwa tantangan ke depan tetap besar. Pemerintah harus memastikan keberhasilan swasembada tidak berhenti pada produksi, tetapi berlanjut pada pemerataan distribusi pangan, peningkatan kesejahteraan petani, dan penguatan hilirisasi pertanian.

Presiden Prabowo juga menegaskan hal serupa, bahwa setelah swasembada terwujud, fokus berikutnya adalah pemerataan pangan agar tidak ada warga yang mengalami kelaparan.

Farid menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa swasembada pangan adalah simbol kedaulatan bangsa. Ia berharap keberhasilan yang telah dicapai saat ini dapat dijaga secara konsisten agar Indonesia tidak kembali terjebak pada ketergantungan impor.

“Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya sendiri. Dan hari ini, kita melihat fondasi itu sedang dibangun serius. Menteri Pertanian Amran Sulaiman telah membuktikan bahwa swasembada pangan bukan mimpi, tapi kenyataan di era Presiden Prabowo,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *