MoneyTalk, Jakarta – Polemik seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) kembali mencuat. Kali ini sorotan tertuju pada nama Cathlyn Yvaeni Lesmana, siswi yang sebelumnya masuk tiga besar seleksi Paskibraka tingkat Provinsi Sulawesi Selatan, namun belakangan dikabarkan dicoret dan digantikan oleh peserta lain.
Peristiwa itu menuai kritik keras dari Koordinator Center For Budget Analysis (CBA), Jajang Nurjaman. Ia meminta BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) membuka secara transparan seluruh tahapan seleksi Paskibraka di berbagai daerah, termasuk Sulawesi Selatan.
“Kalau seleksinya adil, ya hasilnya harus dihormati. Jangan sampai anak muda yang sudah berjuang habis-habisan, tiba-tiba digugurkan cuma karena alasan yang tidak masuk akal. Cathlyn sudah di tiga besar, lalu diganti. Itu namanya main-main dengan masa depan anak bangsa,” tegas Jajang dalam keterangannya, Kamis (28/5/2026).
Menurutnya, posisi tiga besar dalam seleksi Paskibraka biasanya menjadi indikator kuat bahwa peserta tersebut telah memenuhi syarat dan tinggal menunggu penetapan akhir. Namun dalam kasus Cathlyn, nama yang sudah dinyatakan lolos justru hilang dari daftar.
Jajang menilai BPIP harus memberikan penjelasan terbuka kepada publik terkait alasan pencoretan tersebut. Ia juga menyinggung Direktur Penyelenggaraan Program Paskibraka BPIP Pusat, Fuad Lutfi.
“Dari sini mau beralibi apa pun, sudah kelihatan ada kebijakan dalam seleksi menggunakan standar seenaknya sendiri untuk menggugurkan Cathlyn Yvaeni Lesmana,” ujarnya.
Selain menyoroti proses seleksi, CBA juga mengkritik besarnya anggaran program Paskibraka tahun 2026 yang dikelola BPIP. Berdasarkan catatan CBA, total anggaran program tersebut mencapai sekitar Rp9,1 miliar.
Jajang mempertanyakan profesionalitas pelaksanaan seleksi jika masih muncul polemik pencoretan peserta yang sudah dinyatakan lolos.
“Anggarannya besar, tapi dalam tahap seleksi justru muncul dugaan penggunaan standar versi mereka sendiri untuk menghilangkan nama Cathlyn,” katanya.
CBA juga menyoroti kondisi anggaran Paskibraka di tingkat daerah. Untuk Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun anggaran 2026, disebut belum terdapat alokasi dana kegiatan Paskibraka.
“Anggaran kegiatan Paskibraka Provinsi Sulawesi Selatan masih nol, kosong melompong. Tidak ada dana sepeser pun pada tahun 2026. Padahal pada tahun 2025 masih tercatat Rp153.226.000 untuk belanja pakaian Paskibraka,” ujar Jajang.
Adapun rincian anggaran program Paskibraka BPIP Pusat versi catatan CBA di antaranya:
-Belanja Perjalanan Dinas Biasa Pembentukan Paskibraka Daerah sebesar Rp904.420.000.
-Belanja Perjalanan Dinas Paket Meeting Dalam Kota Rakornas Pembentukan Paskibraka dan Verifikasi Tingkat Pusat sebesar Rp1.204.160.000.
-Belanja Jasa Profesi Rakornas Pembentukan Paskibraka dan Verifikasi Tingkat Pusat sebesar Rp45.000.000.
-Belanja Bahan Kesekretariatan Duta Pancasila Paskibraka Indonesia sebesar Rp60.000.000.
-Belanja Sewa Pelaksanaan Tugas Paskibraka sebesar Rp28.800.000.
-Belanja Jasa Sewa Pembentukan Paskibraka sebesar Rp100.000.000.
-Belanja Jasa Lainnya Pelaksanaan Tugas Paskibraka sebesar Rp4.379.200.000.
-Belanja Bahan Pelaksanaan Tugas Paskibraka sebesar Rp1.651.950.000.
-Belanja Jasa Lainnya Pengelolaan Sistem Informasi Kesekretariatan Duta Pancasila Paskibraka Indonesia sebesar Rp200.000.000.
-Belanja Jasa Lainnya Rapat Kerja Nasional Pembentukan Paskibraka sebesar Rp173.272.000.
+Belanja Bahan Rapat Kerja Nasional Pembentukan Paskibraka sebesar Rp450.000.000.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak BPIP terkait alasan pencoretan nama Cathlyn Yvaeni Lesmana dalam seleksi Paskibraka Sulawesi Selatan.





