Kedaulatan Tak Bisa Dibeli: Sutoyo Abadi Ingatkan Pemimpin Jangan Paksa Rakyat Patuh

  • Bagikan
Koordinator Kajian Politik Merah Putih, Sutoyo Abadi

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat sosial-politik Sutoyo Abadi menegaskan bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa tidak hanya terletak pada persenjataan, teknologi, atau kekuatan ekonomi, melainkan pada kecintaan rakyat terhadap tanah air serta komitmen pemimpinnya dalam menjaga kedaulatan negara.

Dalam pernyataannya, Selasa (9/6/2026), Sutoyo menyoroti ketahanan Iran yang mampu bertahan menghadapi sanksi, ancaman, dan tekanan dari luar negeri selama puluhan tahun. Menurutnya, faktor utama yang membuat sebuah negara tetap berdiri bukan semata-mata kekuatan militer atau ekonomi, tetapi semangat nasionalisme dan keberanian untuk tidak tunduk pada tekanan asing.

“Jawabannya bukan semata pada rudal, teknologi, atau kekuatan ekonomi. Ada sesuatu yang jauh lebih mahal, yaitu cinta tanah air dan keberanian menolak tunduk pada tekanan kekuatan asing,” ujarnya.

Sutoyo menilai kepatuhan dan loyalitas rakyat kepada pemimpin tidak dapat direkayasa melalui propaganda atau tekanan. Loyalitas, kata dia, lahir secara alami ketika pemimpin menunjukkan ketulusan, kejujuran, kesederhanaan, dan pengabdian yang tulus kepada rakyat.

Menurutnya, bangsa yang rakyatnya bersedia berkorban demi mempertahankan negaranya akan jauh lebih sulit dikalahkan dibanding negara yang hanya disatukan oleh kepentingan ekonomi.

“Bagi bangsa yang menjadikan kedaulatan sebagai harga diri, mereka tidak bertanya apa keuntungan yang akan didapat, tetapi apa yang harus dikorbankan agar negeri tetap merdeka, berdaulat, dan terhormat,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan banyak bangsa tidak runtuh karena kehabisan uang, melainkan karena kehilangan jiwa, karakter, dan harga dirinya sebagai bangsa merdeka.

Dalam konteks Indonesia, Sutoyo menegaskan bahwa selama para pemimpin tetap mencintai tanah air, menjaga kedaulatan, dan menolak berada di bawah kendali maupun tekanan asing, Indonesia akan tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan.

Sebaliknya, lanjut dia, negara akan menjadi lemah apabila kehilangan harga diri dan membiarkan kepentingan luar menentukan arah kebijakan nasional.

“Senjata yang paling ditakuti bukanlah rudal yang dapat menghancurkan kota. Senjata yang paling ditakuti adalah pemimpin dan rakyat yang tidak bisa dibeli serta tidak bersedia menyerahkan kedaulatan negaranya kepada siapa pun,” tegasnya.

Sutoyo juga mengkritik keras perilaku pemimpin yang, menurutnya, rela mengorbankan kepentingan bangsa hanya karena tekanan pemilik modal atau kekuatan tertentu. Tindakan semacam itu disebutnya sebagai bentuk pengkhianatan terhadap kedaulatan negara.

Karena itu, ia mengingatkan agar pemerintah tidak menyalahkan rakyat atau memaksakan kepatuhan melalui berbagai teori dan pendekatan yang mengabaikan perilaku para pengendali negara sendiri.

“Jangan salahkan rakyat dan memaksa mereka patuh tanpa adanya pantulan keteladanan dari perilaku pengendali negara. Rakyat akan menilai sendiri apakah para pemimpinnya layak diikuti atau tidak,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Sutoyo menilai Indonesia saat ini memang tidak sedang menghadapi perang fisik, tetapi telah memasuki era perang siber dan persaingan global yang mempertaruhkan kedaulatan bangsa.

“Indonesia tidak sedang dalam perang fisik, tetapi sudah berada dalam perang siber dan perang pengaruh. Kedaulatan negara dipertaruhkan. Kita akan terus melihat dan mengamati bagaimana bangsa ini menapaki sejarahnya,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *