Pengamat Bongkar Jejaring Committee 300, Prabowo Disebut Hadang Agenda New World Order

  • Bagikan
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah

MoneyTalk, Jakarta – Wacana mengenai adanya kekuatan elite global yang bekerja di balik layar politik dan ekonomi dunia kembali mengemuka. Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah mengemukakan pandangannya bahwa lembaga-lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia hanyalah instrumen dari kelompok yang lebih besar yang disebutnya sebagai “Committee 300”.

Menurut Amir Hamzah, kelompok tersebut memiliki agenda besar membentuk “New World Order” atau Tatanan Dunia Baru melalui penguasaan sumber daya alam, sistem keuangan global, serta pengaruh terhadap institusi pemerintahan di berbagai negara.

“IMF dan Bank Dunia hanyalah alat. Di atas mereka ada kekuatan yang lebih besar yang mengatur arah kebijakan global,” kata Amir kepada wartawan, Kamis (10/6/2026).

Istilah Committee 300 pertama kali populer melalui buku yang ditulis mantan perwira intelijen Inggris John Coleman pada awal 1990-an. Dalam bukunya, Coleman mengklaim terdapat kelompok elite internasional yang beranggotakan tokoh-tokoh berpengaruh dunia yang secara rahasia mengendalikan arah politik dan ekonomi global.

Committee 300 meyakini bahwa berbagai konflik, krisis ekonomi, hingga pergantian rezim di sejumlah negara merupakan bagian dari agenda besar kelompok tersebut.

Dalam narasi yang berkembang, Raja Inggris disebut sebagai salah satu figur sentral yang memiliki pengaruh terhadap jaringan global tersebut. Amir Hamzah bahkan menyebut Raja Charles III sebagai pemimpin terkini Committee 300.

Salah satu alasan Committee 300 mendapat perhatian di Indonesia tidak terlepas dari pengalaman bangsa saat menghadapi krisis moneter 1997-1998.

Pada masa itu, Indonesia menerima paket bantuan IMF yang disertai berbagai persyaratan melalui Letter of Intent (LoI). Kebijakan tersebut memicu perdebatan panjang karena sebagian kalangan menilai syarat-syarat IMF ikut mempercepat restrukturisasi ekonomi yang berdampak luas terhadap dunia usaha nasional.

Dalam pandangan Amir Hamzah, terdapat upaya untuk mengulang pola yang sama terhadap Indonesia. Namun ia menilai Presiden Prabowo Subianto mengambil posisi berbeda dengan menolak ketergantungan terhadap skema bantuan internasional yang dinilai dapat mengurangi kedaulatan ekonomi nasional.

“Indonesia berdiri di atas kaki sendiri dan tidak boleh masuk kembali ke jebakan yang sama seperti tahun 1998,” ujarnya.

Selain itu, Amir mengungkap keberadaan dana yang disebut “M-One”. Dana kemanusiaan global dalam jumlah sangat besar yang tersebar di berbagai negara dan tersimpan dalam rekening khusus yang disebut memiliki kode tertentu.

Amir juga menyebut pada 2012 ada petinggi negara ini atas sepengetahuan IMF untuk mencairkan dana M-One namun gagal.

“Kode rekeningnya spiritual wonder white boy dan white spiritual boy serta dana tersebut tersimpan ada di setiap negara menggunakan dolar AS dan mata uang negara tempat rekening tersebut,” tegasnya.

Dana M-One diperuntukkan bagi kemanusiaan dan pembangunan dunia, namun selama ini pencairannya terhambat oleh kepentingan kelompok-kelompok tertentu yang ingin mempertahankan dominasi sistem keuangan global.

Dalam berbagai teori yang beredar di internet selama bertahun-tahun, dana-dana semacam ini sering dikaitkan dengan istilah global collateral accounts, hidden wealth funds, atau sovereign trust funds.

Amir juga menyoroti peran City of London yang disebutnya memiliki pengaruh besar terhadap sistem keuangan internasional.

 

Secara historis, City of London memang merupakan salah satu pusat keuangan terbesar dunia. Kawasan seluas sekitar satu mil persegi itu menjadi lokasi berbagai bank internasional, perusahaan investasi, dan lembaga keuangan global.

 

Karena posisi strategisnya tersebut, City of London yang mengaitkan dengan pengendalian ekonomi dunia.

 

Namun para ekonom menilai dominasi City of London lebih disebabkan oleh sejarah panjang Inggris sebagai pusat perdagangan dan keuangan internasional.

Dalam analisis Amir Hamzah, New World Order tidak hanya bergerak melalui instrumen ekonomi, tetapi juga memengaruhi institusi keagamaan dan politik dunia.

Ia menyebut adanya upaya mendekati Vatikan serta memengaruhi struktur kekuasaan di Amerika Serikat.

Presiden Donald Trump, menurut Amir, hanyalah operator dari pertarungan kekuatan yang lebih besar.

Pandangan semacam ini sejalan dengan berbagai teori konspirasi global yang berkembang sejak era Perang Dingin, di mana keputusan politik internasional dianggap sebagai hasil kompromi kelompok elite transnasional.

Di tengah berkembangnya berbagai spekulasi tersebut, Presiden Prabowo Subianto sering diposisikan oleh sejumlah kalangan sebagai figur yang berusaha memperkuat kemandirian nasional.

Kebijakan hilirisasi, penguatan ketahanan pangan, swasembada energi, industrialisasi, hingga penguasaan sumber daya alam oleh negara dipandang sebagai langkah memperbesar posisi tawar Indonesia di tengah persaingan global.

Pendukung narasi ini meyakini bahwa tekanan internasional terhadap Indonesia akan semakin besar seiring meningkatnya peran Indonesia sebagai kekuatan ekonomi dan geopolitik baru.

Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, posisi strategis di jalur perdagangan dunia, serta bonus demografi yang menjadikannya salah satu negara paling diperhitungkan pada abad ke-21.

Karena itulah, menurut mereka, berbagai bentuk tekanan ekonomi maupun politik harus dibaca dalam konteks persaingan global yang lebih luas.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *