MoneyTalk, Jakarta – Pada acara Zulfan Lindan Unparking yang ditayangkan pada Sabtu, 11 Oktober, DR. Ir. Bambang Pranoto, MBA, pendiri Kutus Kutus Group & Sanga Sanga Group, serta CEO Riva Effrianti, berbagi kisah inspiratif tentang perjalanan panjang mereka dalam membangun produk herbal Kutus Kutus.
Dalam wawancara yang penuh makna ini mereka memaparkan bagaimana filosofi tradisional dan tekad kuat dapat mengantarkan sebuah produk lokal menjadi brand global. Kisah perjuangan, tantangan, serta strategi inovatif mereka menjadi pelajaran penting bagi dunia bisnis, terutama bagi UMKM di Indonesia.
Bambang Pranoto mengungkapkan, lahirnya Kutus Kutus berawal dari sebuah kecelakaan yang tidak terduga. Ia mengalami kecelakaan kecil yang mengakibatkan kedua kakinya lumpuh total, meskipun bagian tubuh atasnya tetap berfungsi normal.
Berbagai upaya penyembuhan dilakukan, mulai dari tukang pijat hingga fisioterapis, namun semuanya gagal. Dokter yang ia temui lebih fokus pada penyakit dalam tubuhnya. Seperti tekanan darah tinggi dan diabetes, bukan pada masalah di kakinya.
Dalam kondisi terdesak ini, Bambang memutuskan untuk kembali ke tradisi leluhur dan mempelajari berbagai minyak tradisional yang ada di seluruh Indonesia. Dengan bimbingan spiritual yang kuat, ia memulai eksperimen untuk menciptakan minyak dari bahan-bahan alami yang berasal dari tanaman—yang kemudian dikenal sebagai Tree of Life atau Pohon Kehidupan. Bahan-bahan ini dipilih karena keyakinannya bahwa unsur tumbuhan dapat memberikan kesembuhan alami, tanpa bahan kimia.
Bambang menjelaskan, minyak Kutus Kutus dibuat dari 69 jenis tanaman dan rempah. Sebuah evolusi dari komposisi awal yang hanya menggunakan 49 jenis bahan. Filosofi dasar dari minyak ini adalah Tree of Life, di mana setiap unsur dari tumbuhan seperti daun, batang, kulit batang, dan buah harus berjumlah tujuh. Angka tujuh dianggap sebagai simbol harmoni dan keseimbangan dalam kehidupan, yang juga dipengaruhi oleh ajaran agama dan tradisi spiritual.
Proses pembuatan minyak dilakukan secara tradisional tanpa menggunakan mesin. Akan tetapi, mengandalkan tenaga manusia untuk mempertahankan keaslian dan keefektifan bahan-bahan herbal tersebut.
Perjalanan bisnis Bambang dan Riva tidak selalu mulus. Pada tahun-tahun awal mereka harus menghadapi berbagai kendala. Salah satunya terkait masalah keuangan dalam memproduksi minyak.
Bambang menuturkan, “Untuk memproduksi minyak Kutus Kutus, biayanya cukup besar. Itulah sebabnya saya menunjuk distributor yang harus membayar terlebih dahulu, baru uang tersebut digunakan untuk produksi.”
Pada pertengahan 2016 tantangan besar dating. Salah satu distributor yang dipercaya justru membajak produk dan memproduksi minyak sendiri. Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi mereka tentang pentingnya menjaga kepercayaan dalam bisnis.
“Gangguan dalam bisnis pasti ada, terutama ketika bisnis mulai berkembang besar. Banyak pihak yang tidak suka melihat sebuah perusahaan maju, sehingga berbagai hambatan mulai muncul,” ungkap Bambang.
Bambang yang memiliki latar belakang perbankan dan telekomunikasi, menggunakan pengalaman dan keahliannya dalam angka, target, dan strategi untuk mengelola Kutus Kutus dengan cermat. Salah satu kunci keberhasilan bisnis ini adalah pengelolaan keuangan yang tepat dan tidak semata-mata mengejar keuntungan. Bambang menekankan pentingnya filosofi “Jangan hanya mencari uang, tetapi carilah pohon uang,” yang menggambarkan pentingnya menciptakan fondasi bisnis yang berkelanjutan dan kuat.
Riva Effrianti sebagai CEO juga berperan besar dalam mengelola distribusi dan marketing produk. Ia menjalin hubungan langsung dengan para distributor dan reseller, memastikan bahwa setiap hambatan atau kebutuhan mereka dapat segera diselesaikan.
Dalam perjalanannya, Kutus Kutus telah meraih kesuksesan besar. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di pasar internasional. Salah satu pencapaian monumental mereka adalah pembelian kastil di Belanda, yang kini menjadi simbol kejayaan produk Indonesia di dunia. Kastil ini juga menjadi tempat pertemuan dan perkenalan produk bagi komunitas internasional.
Riva Effrianti berbagi, “Kami mengelola bisnis ini dengan semangat dan keyakinan bahwa produk herbal asli Indonesia dapat mendunia. Kami bekerja keras untuk mempertahankan kualitas produk dan terus berinovasi sesuai dengan kebutuhan pasar.”
Kisah perjalanan Bambang Pranoto dan Riva Effrianti dalam membangun Kutus Kutus adalah contoh nyata bagaimana ketekunan, inovasi, dan nilai-nilai tradisional dapat menjadi landasan bagi kesuksesan bisnis modern. Mereka membuktikan bahwa produk lokal dengan bahan-bahan alami dan proses tradisional dapat bersaing di kancah internasional.
Bagi UMKM dan pengusaha muda di Indonesia, perjalanan mereka adalah pelajaran penting tentang pentingnya visi jangka panjang, manajemen yang baik, serta keberanian untuk menghadapi tantangan dan berinovasi.
Seperti yang disampaikan oleh Bambang, “Gangguan dalam bisnis pasti ada, tapi yang penting adalah bagaimana kita bisa bertahan dan terus maju dengan strategi yang tepat.”
Produk Kutus Kutus dan Sanga Sanga kini menjadi simbol kebanggaan Indonesia. Ia membawa filosofi kehidupan yang sehat dan harmonis ke seluruh dunia.(c@kra)





