MoneyTalk, Jakarta – Peter Gontha, seorang pengusaha sukses, mantan duta besar, dan politisi dari Partai Nasdem, telah mengeluarkan pernyataan yang menggugah mengenai kondisi ekonomi Indonesia dan pengaruh sistem politik terhadap kesejahteraan masyarakat. Dalam sebuah episode podcast “Akbar Faizal Uncensored” yang disiarkan pada 16 Oktober, Gontha membahas isu-isu kritis seperti kinerja Bea Cukai, hilangnya potensi pendapatan negara, serta masalah ketidakadilan dalam sistem demokrasi Indonesia yang disebutnya sebagai “demokrasi feodalistis”.
Gontha menyoroti lemahnya pengawasan oleh Bea Cukai dalam mencatat ekspor. Ia mencatat bahwa dari 100unit barang yang diekspor, hanya sekitar30 unit yang tercatat secara resmi. Ini menunjukkan adanya praktik transfer pricing dan transfer dokumen ke luar negeri, yang mengakibatkan hilangnya pendapatan pajak bagi negara.
Gontha menegaskan bahwa banyak konglomerat kaya di Indonesia memilih untuk berinvestasi dan menyimpan kekayaan mereka di luar negeri, khususnya Singapura, yang mengakibatkan kehilangan besar bagi perekonomian nasional.
Menurut Gontha, ketidakadilan dalam kebijakan ekonomi juga tercermin dari cara pemerintah mengelola sumber daya alam. Ia mengusulkan agar pemerintah menetapkan aturan yang lebih adil dalam distribusi keuntungan dari sumber daya, seperti nikel dan mineral lainnya, untuk memastikan bahwa keuntungan tersebut tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang kaya.
Ia berpendapat bahwa jika keuntungan dari tambang dan sumber daya alam bisa dibagi dengan lebih adil, negara akan memperoleh pendapatan yang jauh lebih besar yang bisa digunakan untuk kesejahteraan masyarakat.
Gontha mengkritik sistem demokrasi Indonesia yang dinilai terlalu feodalistis. Dalam pandangannya, sistem ini memberikan keuntungan kepada para pemilik kekayaan dan kekuasaan, sementara masyarakat luas tidak mendapatkan manfaat yang setara. Ia mencatat bahwa ada kecenderungan di kalangan politisi untuk berkompromi dengan kepentingan pengusaha, yang dapat merugikan kepentingan publik. Gontha mengusulkan perlunya reformasi dalam sistem politik untuk menciptakan pemerintahan yang lebih akuntabel dan transparan.
Mengulas tentang masa depan politik Indonesia, Gontha mengungkapkan harapannya terhadap Prabowo Subianto, yang dianggapnya sebagai sosok yang berani. Ia percaya bahwa Prabowo dapat membawa perubahan positif jika mampu mengendalikan orang-orang di sekelilingnya yang mungkin terpengaruh oleh kepentingan pribadi. Gontha berpendapat bahwa perubahan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin, tetapi juga oleh struktur hukum dan kebijakan yang diterapkan.
Pernyataan Peter Gontha menyoroti isu-isu mendalam yang dihadapi Indonesia, terutama terkait dengan ekonomi, kebijakan publik, dan kualitas demokrasi. Dengan mengajak pemerintah untuk lebih memperhatikan ketidakadilan dalam pengelolaan sumber daya dan reformasi dalam sistem demokrasi, Gontha menawarkan perspektif yang dapat menjadi landasan bagi perbaikan di masa depan. Melalui dialog yang terbuka dan konstruktif, diharapkan Indonesia dapat mencapai kemajuan yang lebih signifikan dan berkeadilan bagi seluruh rakyat.
Penting untuk diingat bahwa keberhasilan transformasi ini bergantung pada kemauan politik untuk mendengarkan dan mengimplementasikan perubahan yang diperlukan, agar semua warga negara dapat merasakan manfaat dari kekayaan yang dimiliki bangsa.(c@kra)





