MoneyTalk, Jakarta – Dalam pernyataan yang disampaikan kepada wartawan pada Rabu (02/10), Mus Gaber, Ketua Padepokan Hukum Indonesia (Padhi), menegaskan bahwa Reda Manthovani layak untuk diangkat sebagai Jaksa Agung. Dukungan ini mencuat di tengah rumor mengenai kemungkinan pengangkatan Reda, yang saat ini menjabat sebagai Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) di Kejaksaan Agung. Pendapat ini didasarkan pada perjalanan karier Reda yang gemilang serta kemampuannya dalam menghadapi berbagai tantangan di dunia hukum.
Reda Manthovani telah menunjukkan dedikasi dan komitmen tinggi dalam kariernya di Kejaksaan Agung. Sejak memulai kariernya di Biro Hukum dan Hubungan Luar Negeri pada Jaksa Agung Muda Pembinaan pada tahun 1999, ia telah melalui berbagai pengalaman yang membentuknya menjadi seorang jaksa yang kompeten dan profesional. Keberhasilannya meraih gelar LL.M. dari Aix-Marseille Université di Prancis merupakan salah satu tonggak penting dalam perjalanan kariernya. Keputusan Reda untuk mengambil beasiswa studi di luar negeri, meskipun harus melepas kesempatan lain, menunjukkan sikapnya yang berani mengambil tantangan demi pengembangan diri.
Reda juga dikenal sebagai sosok yang memiliki pola pikir yang kuat. Ia menerapkan prinsip “the power of mind” dalam setiap langkahnya, berusaha untuk menjadi unik dan berbeda secara positif dibandingkan rekan-rekannya. Ini menjadi salah satu alasan mengapa Mus Gaber menilai Reda layak untuk memimpin Kejaksaan Agung, karena ia memiliki visi yang jelas dan komitmen terhadap profesinya.
Selain pengalaman profesional, dukungan keluarga dan mentor juga berperan penting dalam perkembangan karier Reda. Ia menyebutkan bahwa kedua orang tuanya selalu memberikan semangat dan dorongan untuk tidak menyerah. Pendidikan yang diterimanya mengajarkan untuk berfokus pada kekuatan dan keberhasilan, bukan sekadar berharap pada kemudahan.
“Saya diajarkan untuk meminta kekuatan dalam menghadapi tantangan, bukan hanya meminta agar segala sesuatunya dipermudah,” ujarnya.
Mentor-mentor yang menginspirasi Reda, seperti Marwan Effendy dan Basrief Arief, memberikan kontribusi besar dalam pembentukan kariernya. Ia mempelajari kelebihan masing-masing mentor dan menerapkan yang sesuai dengan gaya kerjanya. Pendekatan ini membuktikan bahwa Reda bukan hanya seorang pelaksana hukum, tetapi juga seorang pemimpin yang mampu mengintegrasikan berbagai nilai dan prinsip dalam kepemimpinannya.
Mus Gaber mengingatkan bahwa meskipun Reda Manthovani memiliki rekam jejak yang baik, pengangkatannya sebagai Jaksa Agung akan dihadapkan pada tantangan besar, terutama dalam menjaga independensi lembaga kejaksaan. Penting bagi Reda untuk meyakinkan publik bahwa Kejaksaan Agung tidak akan digunakan sebagai alat politik, terutama mengingat adanya isu bahwa pengangkatannya dapat dipandang sebagai kepentingan politik tertentu.
Reda harus mampu menunjukkan bahwa ia akan memimpin Kejaksaan Agung dengan adil dan transparan, serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga penegak hukum. Hal ini menjadi penting di tengah berbagai tantangan yang dihadapi institusi hukum di Indonesia saat ini, termasuk masalah korupsi dan penyalahgunaan wewenang.
Dukungan Padhi terhadap Reda Manthovani sebagai calon Jaksa Agung mencerminkan harapan akan pemimpin yang kompeten, berintegritas, dan mampu membawa Kejaksaan Agung ke arah yang lebih baik. Dengan pengalaman, komitmen, dan pola pikir yang kuat, Reda diharapkan dapat memenuhi harapan masyarakat akan penegakan hukum yang adil dan transparan. Jika diangkat sebagai Jaksa Agung, tantangan besar menanti, tetapi dengan dukungan yang tepat, Reda Manthovani berpotensi menjadi sosok yang membawa perubahan positif dalam lembaga kejaksaan di Indonesia.(c@kra)





