MoneyTalk, Jakarta – Dalam sebuah diskusi yang berlangsung pada Kamis (03/10) di acara Tot Asl Politik, Philip J. Vermonte, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UIII, bersama Bambang Harmurti, membahas secara rinci bagaimana pendekatan diplomasi dua tokoh besar Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto, berpotensi membawa pengaruh besar terhadap masa depan Indonesia di kancah global. Isu utama dalam diskusi ini adalah perbedaan gaya diplomasi Jokowi dan Prabowo, terutama di tengah situasi global yang mengkhawatirkan dan berpotensi memicu Perang Dunia III.
Diplomasi Jokowi, Ekonomi sebagai Poros Utama
Pada era Presiden Jokowi, diplomasi luar negeri Indonesia berfokus pada aspek ekonomi. Dengan latar belakang pengusaha, Jokowi mendorong diplomat Indonesia untuk menjadi pemasar global, menarik investasi asing, dan memperluas pasar internasional untuk produk-produk lokal. Pendekatan ini, yang terlihat jelas dalam pidato awalnya, “Please Invest in Indonesia,” mencerminkan tekad untuk memposisikan Indonesia sebagai pemain kunci dalam perdagangan global.
Diplomasi ekonomi Jokowi ini dianggap efektif dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Proyek-proyek besar seperti pembangunan infrastruktur yang didanai oleh investor asing, termasuk dari Cina, menjadi salah satu tonggak kebijakan luar negeri Jokowi. Namun, pendekatan yang terlalu fokus pada keuntungan ekonomi ini juga mengundang kritik. Sebagian kalangan menilai, Jokowi cenderung mengabaikan aspek geopolitik yang semakin kompleks, seperti konflik di Laut Cina Selatan, isu lingkungan global, dan ketegangan politik yang mempengaruhi stabilitas kawasan.
Keputusan Jokowi untuk absen dalam sidang tahunan PBB juga menjadi kontroversi, karena dianggap sebagai pengabaian peran penting Indonesia dalam diplomasi internasional, terutama dalam menjaga perdamaian dunia.
Prabowo, Pendekatan Geopolitik yang Berfokus pada Keamanan
Berbeda dengan Jokowi, Prabowo Subianto memiliki pendekatan yang lebih canggih dan geopolitik. Sebagai mantan perwira militer, Prabowo memahami dengan baik pentingnya menjaga kedaulatan dan keamanan kawasan maritim Indonesia, terutama Selat Malaka, yang merupakan salah satu jalur pelayaran internasional terpenting.
Prabowo mengakui bahwa Indonesia perlu berperan aktif dalam isu-isu strategis global, seperti ketegangan di Laut Cina Selatan dan potensi invasi Cina ke Taiwan. Konflik seperti ini tidak hanya berdampak pada keamanan regional tetapi juga memiliki implikasi terhadap ekonomi Indonesia, terutama dalam hal energi dan pangan.
Kehadiran Prabowo di forum-forum internasional yang membahas pertahanan dan keamanan, seperti Shangri-La Dialogue, menunjukkan bahwa ia sangat memperhatikan aspek keamanan global. Jika terpilih sebagai presiden, kemungkinan besar Prabowo akan menggeser fokus diplomasi Indonesia dari ekonomi ke geopolitik. Ini penting, mengingat ketegangan internasional yang semakin meningkat, terutama terkait dengan perang di Ukraina dan potensi konflik di kawasan Asia-Pasifik.
Tantangan Geopolitik, Cina, Taiwan, dan Amerika Serikat
Situasi geopolitik global yang semakin memanas, terutama terkait ketegangan antara Cina dan Taiwan, menjadi salah satu fokus utama diskusi. Cina, dengan ambisi globalnya, diprediksi akan menjadi kekuatan besar dunia. Namun, ketegangan di Selat Taiwan dan potensi invasi Cina ke wilayah tersebut bisa memicu eskalasi konflik berskala besar, bahkan Perang Dunia III.
Indonesia memiliki ratusan ribu warga di Taiwan, yang menempatkan negara ini dalam posisi yang rentan jika konflik terjadi. Evakuasi dan dampak ekonomi yang besar akan menjadi tantangan bagi siapa pun yang memimpin Indonesia. Cina, meskipun kuat, juga menghadapi masalah internal yang dapat mendorongnya ke arah konflik, seperti memenuhi kebutuhan domestiknya yang besar.
Dalam konteks ini, Prabowo mungkin akan lebih tegas dalam menanggapi ketegangan antara Cina dan negara-negara Barat, mengingat kepentingan strategis Indonesia di kawasan Asia-Pasifik.
Masa Depan Diplomasi Indonesia di Bawah Prabowo: Kombinasi Ekonomi dan Keamanan
Di tengah potensi ancaman global yang semakin nyata, pertanyaan utama adalah: apakah pendekatan diplomasi Jokowi yang berfokus pada ekonomi akan terus efektif, atau apakah pendekatan geopolitik Prabowo lebih relevan di era ketegangan global ini?
Banyak analis percaya bahwa Indonesia akan mendapat manfaat besar dengan menggabungkan kedua pendekatan tersebut. Pendekatan diplomasi ekonomi ala Jokowi, yang berhasil menarik investasi asing dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global, tetap penting. Namun, di sisi lain, pendekatan geopolitik Prabowo, yang lebih berorientasi pada keamanan kawasan dan posisi strategis Indonesia dalam percaturan global, menjadi krusial untuk menjaga stabilitas negara di tengah ketegangan dunia yang semakin memanas.
Indonesia, sebagai negara besar di ASEAN dan salah satu kekuatan ekonomi dunia, harus mampu memainkan peran penting dalam menavigasi perubahan tatanan global yang sedang berlangsung. Kombinasi pendekatan ekonomi dan geopolitik yang matang akan menjadi kunci bagi masa depan diplomasi Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo. Di tengah kemungkinan Perang Dunia III, Indonesia harus siap menghadapi tantangan besar di kancah global dan menjaga kepentingan nasionalnya dengan bijaksana.
Diplomasi Indonesia menghadapi tantangan besar di masa depan. Di bawah kepemimpinan Jokowi, fokus pada ekonomi membawa banyak keuntungan bagi negara, tetapi mengabaikan aspek-aspek geopolitik yang semakin kompleks. Sementara itu, Prabowo, dengan pendekatan geopolitiknya yang lebih strategis, akan menempatkan keamanan kawasan sebagai prioritas utama. Dengan memadukan kedua pendekatan ini, Indonesia dapat menguatkan posisinya sebagai kekuatan global dan menghadapi tantangan yang berpotensi mengarah pada Perang Dunia III.(c@kra)





