MoneyTalk, Jakarta – Indra JP lagi duduk di angkringan, rambut cepaknya agak berantakan, tapi tetap percaya diri kayak baru menang debat publik. Di depannya, Alfan, satu-satunya orang Betawi di SMID Jabodetabek, lagi ngaduk kopi sambil nunggu gorengan kering.
“Fan, lu pernah denger nama Lembu Sora?” tanya Indra, tiba-tiba sok bijak.
Alfan melirik. “Itu apaan, Ndra? Nama makanan dari daerah mana tuh? Kayak semur jengkol versi kerajaan?” Sebagai orang Betawi satu-satunya di SMID Jabodetabek yang Alfan tahu cuma Pitung sama Gobang.
Indra geleng-geleng. “Bukan, bro. Lembu Sora itu ksatria Jawa kuno. Ganteng, jago pedang, setia banget sama rajanya, Kertanegara. Tapi hidupnya tragis… Dibunuh. Bukan karena salah, tapi karena difitnah.”
Alfan langsung duduk tegak. “Weh… klasik banget. Udah kayak plot sinetron jam lima sore. Fitnah apa, Ndra?”
“Katanya dia deket sama selir istana. Padahal mah kagak! Itu cuma gara-gara dia kebetulan duduk deket selir waktu makan. Abis itu, boom! Gosip istana jalan. Lembu Sora jadi korban politik dalam negeri.”
Alfan ngakak. “Astaga, kayak aktivis yang ketangkep foto bareng ormas, langsung dibilang antek!”
Indra angguk. “Nah! Makanya gue bilang, kisah Lembu Sora ini masih relevan banget. Dulu difitnah pake bisik-bisik selir, sekarang cukup pake caption hoaks sama video 30 detik. Sama-sama mampus.”
Alfan garuk kepala. “Tapi kenapa sih orang kayak gitu bisa dimatiin kariernya?”
“Fan,” kata Indra dengan gaya dosen dadakan, “kata Gramsci, yang penting dalam politik itu bukan cuma kebenaran, tapi siapa yang ngatur narasi. Kalau lo gak punya akses ke panggung, suara lo tenggelam. Apalagi kalau lo idealis, gak ikut tepuk tangan wah, langsung dianggap ancaman.”
Alfan nyengir. “Kaya kita ya, Ndra? Demo bener, tapi gak disapa sama senior karena gak ikutan nyembah.”
Indra lanjut, makin semangat. “Foucault juga pernah bilang, sekarang yang penting itu siapa yang pegang kebenaran versi publik. Viralitas bisa ngalahin fakta. Orang bisa dihancurin reputasinya, padahal dia gak salah apa-apa.”
Alfan nyeletuk, “Kayak mantan gue, Ndra. Putusin gue cuma karena dia denger gosip gue deket sama tukang jamu gendong.”
Indra ngakak. “Nah, lu tuh Lembu Sora versi kampus!”
Lalu Indra berdiri, gaya kayak pembicara TED Talk KW.
“Teman-teman, dengerin. Lembu Sora itu punya segalanya—setia, kompeten, terbukti di lapangan. Tapi dia bukan bagian dari lingkaran istana, makanya dijegal. Kayak ASN jujur yang dimutasi ke daerah cuma karena gak punya backing politik.”
Alfan menimpali, “Atau dosen muda yang gak diajak rapat karena terlalu pinter dan gak bisa disetir.”
“Yup! Max Weber bilang, birokrasi modern sering kali lebih milih yang loyal ketimbang yang profesional. Jadi jangan kaget kalau yang jago malah disingkirin, sementara yang suka jilat malah naik jabatan.”
Alfan cengar-cengir. “Kalo gitu mah negeri ini udah kayak pembunuh Lembu Sora kolektif.”
Indra garuk-garuk dada. “Iya Fan. Kalau budaya politiknya kayak gini terus, orang-orang baik bakal terus dikorbanin. Lembu Sora itu gak sendirian. Dia sekarang menjelma jadi aktivis yang dibungkam, ASN yang dimutasi, rakyat biasa yang suaranya dimatiin cuma karena beda pilihan.”
Alfan ngelamun bentar, terus nyeletuk, “Tapi kenapa namanya harus Lembu Sora sih? Gak keren amat. Kenapa gak Gibran McSword atau Rangga Kertanegara?”
Indra tepuk jidat. “Fan… itu nama asli, bukan nama TikTok.”
Mereka pun terdiam sejenak, menikmati gorengan dan pahitnya kenyataan politik.
Sambil ngelap tangan ke celana, Alfan berkata, “Ndra, kayaknya kita perlu bikin diskusi publik soal ini.”
“Setuju. Judulnya: Dari Selir ke Buzzer Evolusi Politik Fitnah di Negeri Tercinta.”
Mereka tertawa keras, lalu terdiam lagi, menatap malam Jakarta yang penuh baliho dan janji kosong.
Dan di ujung obrolan itu, mereka tahu, di balik tawa dan candaan, negeri ini benar-benar sedang kehabisan tempat buat Lembu Sora yang jujur dan setia. Karena sistem lebih suka yang bisa tepuk tangan sambil nyelipin pisau di punggung.
Penulis : Agung Nugroho, Pemaen Bola Kampung. 070825





