MoneyTalk, Jakarta – Pengamat sosial politik Sholihin MS menilai langkah Presiden Prabowo Subianto merombak kabinetnya dengan memberhentikan lima menteri, sebagian besar dikenal dekat dengan Presiden Joko Widodo, merupakan sinyal tegas bahwa Prabowo tidak sepenuhnya dikendalikan oleh pendahulunya.
Menteri-menteri yang dicopot antara lain Sri Mulyani, Budi Arie, Budi Gunawan, Dito Ario Tedjo, dan Abdul Karding. “Langkah ini berani dan penuh risiko, mengingat Jokowi selama ini dianggap sebagai king master sekaligus designer pemerintahan,” kata Sholihin, Sabtu (13/9/2025).
Sholihin menilai, beberapa hal menonjol dari reshuffle ini:
-Prabowo Tidak Sepenuhnya Diatur Jokowi. Ia mencontohkan pembatalan keputusan pengalihan empat pulau Aceh ke Sumatra Utara, hingga pemberian abolisi dan amnesti dalam kasus politik tertentu, sebagai tanda kemandirian Presiden.
-Strategi Merangkul Jokowi. Menurut Sholihin, Prabowo mungkin sengaja tampil sebagai “Jokower 100%” untuk melunakkan sikap Jokowi.
-Urutan Reshuffle Bertahap. Figur-figur kuat seperti Luhut Binsar Pandjaitan, Tito Karnavian, Bahlil Lahadalia, dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo belum tersentuh, yang diduga bagian dari strategi politik bertahap.
-Isu Pemakzulan Gibran. Sholihin menyinggung rumor pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, meski langkah itu memerlukan dukungan DPR.
-Posisi Kapolri. Kapolri Listyo Sigit masih dipertahankan, yang disebut Sholihin terkait kepentingan politik dan keamanan.
-Tekanan Hukum Terhadap Jokowi. Ia juga menyebut desakan sejumlah pihak agar pemerintahan menindaklanjuti dugaan pelanggaran hukum di era Jokowi, meski langkah ini dinilai penuh tantangan.
Analis menilai langkah Prabowo memperkuat posisinya lewat konsolidasi politik sambil menjaga stabilitas nasional. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Istana terkait pernyataan Sholihin tersebut.





