Pasukan Berani Mati Jokowi: Ada Anasir Jahat Ingin Mengganti Kapolri Listyo Sigit

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Pernyataan mengejutkan datang dari Koordinator Pasukan Berani Mati Jokowi, Sukodigdo Wardoyo, yang menuding adanya “anasir jahat” berupaya mengganti Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Sukodigdo juga menuding pihak-pihak tertentu memfitnah Kapolri yang menurutnya telah bekerja baik menjaga keamanan nasional.

Dalam keterangan kepada wartawan, Sukodigdo menegaskan bahwa kinerja Kapolri Listyo Sigit selama ini “sangat bagus” dan Indonesia berada dalam kondisi aman. Ia menilai pihak-pihak yang disebutnya “anasir jahat” tengah melakukan manuver untuk mengganti pucuk pimpinan Polri dengan menyebarkan fitnah.

“Kami melihat ada pihak-pihak tertentu yang ingin mengganti Kapolri. Mereka menyebarkan isu-isu bohong. Kami tidak tinggal diam,” ujar Sukodigdo, Ahad (14/9/2025).

Namun, hingga kini Sukodigdo tidak menyebutkan nama maupun bukti konkret mengenai pihak yang ia tuding sebagai anasir jahat. Tidak ada data yang diverifikasi publik terkait siapa saja yang tergabung dalam kelompok Pasukan Berani Mati Jokowi selain pengakuannya sebagai koordinator.

Kelompok ini sebelumnya sempat muncul di pemberitaan saat mengumumkan rencana apel akbar mendukung Jokowi. Akan tetapi, informasi tentang struktur organisasi, jumlah anggota, dan kegiatan nyata mereka masih kabur.

Sejak dilantik pada 2021, Jenderal Listyo Sigit Prabowo dikenal mengedepankan pendekatan Presisi (prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan).

Di bawah kepemimpinan Listyo Sigit, kata Sukodigdo Polri berhasil menjaga stabilitas keamanan nasional, mulai dari pengamanan pemilu hingga penanganan aksi terorisme.

Pernyataan Sukodigdo Wardoyo tentang adanya “anasir jahat” yang ingin mengganti Kapolri Listyo Sigit Prabowo menambah warna dalam dinamika politik nasional.

Namun, tanpa bukti yang dapat diverifikasi, klaim ini masih sebatas tudingan.

Ketika informasi semacam ini bergulir di tengah masyarakat yang sensitif terhadap isu keamanan, kehati-hatian menjadi kunci agar opini publik tidak terseret dalam arus spekulasi yang dapat merugikan stabilitas bangsa.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *