Purbaya, Kresna di Panggung Ekonomi Republik

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Di panggung ekonomi yang riuh dan penuh tarik-menarik kepentingan, muncul seorang tokoh yang datang bukan dengan retorika politik, melainkan dengan kalkulasi dan disiplin angka. Ia tidak tampil berapi-api di depan kamera, tetapi tenang, metodis, dan berbicara dengan data. Dialah Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan yang lebih tampak sebagai arsitek ketimbang orator  lebih mirip Kresna dalam pewayangan ketimbang Bima yang mengandalkan tenaga.

Purbaya datang ke kabinet dengan reputasi sebagai teknokrat murni. Lulusan Teknik Elektro dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan doktor ekonomi dari Purdue University, Amerika Serikat, ia meniti karier dari dunia riset, lembaga sekuritas, hingga puncaknya menjabat Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebelum dilantik menjadi Menteri Keuangan pada 8 September 2025.

Rekam jejak itu menunjukkan konsistensinya pada satu hal yaitu rasionalitas. Ia berpikir dalam kerangka sistem, bukan sekadar kebijakan sesaat. Karena itu, wajar jika gaya kepemimpinannya kini dianggap teknokratis, berhati-hati, dan fokus pada stabilitas fiskal serta pertumbuhan berkelanjutan.

Beberapa pernyataannya di media memperlihatkan pandangan khas seorang ekonom yang mengutamakan keseimbangan makro, bahkan ketika sikap tersebut tidak populer. Di mata sebagian publik, gaya komunikasinya mungkin tampak dingin. Namun, dalam kacamata pewayangan, ia lebih menyerupai Kresna  sosok yang menjaga harmoni di tengah perang besar, memastikan arah tidak salah haluan, tanpa harus ikut mengangkat senjata.

Dalam kisah Mahabharata, Kresna memegang kendali kereta Arjuna. Ia bukan pejuang yang menebas musuh, melainkan pengarah yang menentukan arah panah kebenaran. Begitu pula Purbaya dalam konteks ekonomi modern. Ia bukan pengambil keputusan populis, melainkan penjaga agar ekonomi Indonesia tetap seimbang antara pertumbuhan dan keadilan sosial.

Analogi ini tentu bukan klaim faktual, melainkan refleksi budaya atas gaya kepemimpinan yang mengutamakan nalar dibanding emosi, strategi dibanding sensasi.

Kresna dikenal lihai membaca momentum dan jarang tergesa. Sekali bergerak, arah sejarah berubah. Demikian pula Purbaya  yang cenderung bekerja diam-diam, tetapi fokus membangun pondasi sistem keuangan yang lebih inklusif, efisien, dan tahan gejolak. Ia seperti Kresna yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan di tangan, melainkan di kepala.

Dalam era ketika politik sering mengaburkan rasionalitas, kehadiran figur seperti Purbaya menjadi pengingat bahwa republik tetap membutuhkan teknokrat yang berpikir jernih. Ia bukan pahlawan yang menunggang kuda di medan perang, melainkan pengemudi kereta yang tahu kapan harus memperlambat laju dan kapan harus mengerem tajam. Mungkin ia tak selalu populer, tetapi peran di balik layar justru yang menjaga republik tetap berdiri tegak di tengah guncangan.

Dan seperti Kresna, mungkin tidak semua orang akan memahami jalannya sekarang. Namun sejarah sebagaimana selalu  lebih berpihak pada mereka yang menjaga keseimbangan daripada mereka yang membakar panggung.

Penulis : Agung Nugroho, Direktur Jakarta Institute.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *