MoneyTalk, Jakarta – PARA Syndicate menilai dinamika yang tengah terjadi di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bukan sekadar persoalan konflik jabatan, melainkan tanda terjadinya perubahan watak organisasi yang lebih dalam.
Direktur Eksekutif PARA Syndicate, Virdikaa Rizky Utama, menyatakan bahwa NU kini menunjukkan gejala bergeser dari posisinya sebagai kekuatan masyarakat sipil menuju organisasi yang semakin terpusat pada pertarungan kekuasaan internal.
“Perkembangan ini menunjukkan bahwa persoalan yang muncul tak sekadar konflik jabatan, tetapi terjadi pergeseran watak organisasi yang semakin mirip partai politik,” ujar Virdikaa, Sabtu (29/11/2025).
Menurutnya, NU tidak sedang runtuh, namun sedang berubah. Organisasi Islam terbesar di Indonesia itu tetap besar secara struktur, tetapi semakin jauh dari ruang tempat masyarakat selama ini mencari pegangan moral.
“Ia tetap memiliki struktur, tetapi struktur itu tidak lagi menjadi alat untuk menjangkau publik,” tegasnya.
Virdikaa menilai bahwa PBNU mungkin dapat memenangi berbagai kontestasi internal dan mempertahankan kendali organisasi. Namun kemenangan semacam itu justru berisiko membuat NU kehilangan relevansi moral di mata masyarakat luas.
“PBNU mungkin dapat memenangi pertarungan internal, tetapi kehilangan relevansinya di hadapan rakyat. Pada titik itulah sebuah organisasi boleh tetap berdiri, tetapi tidak lagi menjadi tempat orang berharap,” kata Virdikaa.
Ia menekankan bahwa situasi ini harus menjadi refleksi serius bagi seluruh elite NU. Bukan hanya soal siapa yang berkuasa, tetapi bagaimana NU menjaga jati dirinya sebagai rumah besar yang memberikan panduan nilai bagi umat.





