Gus Umar Desak Yahya Cholil Staquf Mundur dari Ketum PBNU, Singgung Polemik Tambang dan Kasus Kuota Haji

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Aktivis Nahdlatul Ulama (NU), Umar Hasibuan atau yang dikenal sebagai Gus Umar, melontarkan kritik keras terhadap Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Ia mendesak Yahya untuk mundur dari jabatannya menyusul polemik keterlibatan PBNU dalam isu pertambangan serta kasus kuota haji yang menyeret adiknya, Yaqut Cholil Qoumas.

Melalui pernyataan terbukanya di media sosial, Gus Umar menilai kepemimpinan Yahya Cholil Staquf telah mencederai marwah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Menurutnya, NU seharusnya berdiri sebagai penjaga moral, bukan terseret ke pusaran kepentingan ekonomi dan kekuasaan.

“PBNU hari ini sibuk mengurusi tambang. Ini sangat jauh dari khittah NU sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah,” kata Gus Umar dalam pernyataannya yang beredar luas, Ahad (11/1/2026).

Ia juga menyinggung persoalan yang melibatkan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, adik kandung Yahya Cholil Staquf, yang dikaitkan dalam pusaran kasus kuota haji yang tengah menjadi sorotan publik dan aparat penegak hukum. Gus Umar menilai kasus tersebut telah mencoreng nama baik NU di mata umat Islam.

“Ini memalukan bagi warga NU. Bagaimana mau mendidik nahdliyin, kalau adik sendiri terseret persoalan serius dan tidak bisa diberi teladan?” ujarnya.

Gus Umar menegaskan, meskipun secara hukum tanggung jawab bersifat personal, namun secara etik dan moral, kepemimpinan Yahya Cholil Staquf tetap terdampak. Ia menilai posisi Ketua Umum PBNU menuntut keteladanan yang lebih tinggi, baik secara pribadi maupun keluarga.

“Seharusnya Bung Yahya legowo dan mundur demi menjaga kehormatan NU,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, PBNU maupun Yahya Cholil Staquf belum memberikan pernyataan resmi menanggapi desakan tersebut. Sementara itu, polemik tambang dan isu tata kelola kuota haji masih terus menjadi perbincangan hangat di kalangan warga NU dan publik nasional.

Sejumlah pihak mengingatkan agar NU tidak terseret lebih jauh ke dalam konflik politik dan ekonomi yang berpotensi menggerus kepercayaan jamaah terhadap ulama dan institusi keagamaan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *