Kekuasaan adalah Candu, Wartawan Senior Ingatkan Bahaya Laten Neo-Orde Baru

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Wartawan senior Lukas Luwarso mengingatkan publik terhadap bangkitnya kembali watak Orde Baru dalam wajah baru kekuasaan Indonesia hari ini. Dalam pandangannya, kekuasaan yang tak terkendali telah berubah menjadi candu, memicu kecenderungan otoritarian yang perlahan namun sistematis menggerogoti demokrasi.

Menurut Lukas, fasisme modern tidak lagi hadir dengan tank dan pasukan bersenjata di jalanan, melainkan melalui mekanisme yang tampak sah secara hukum. “Hari ini, kekuasaan bekerja lewat regulasi, banalitas buzzer, aparat tanpa akuntabilitas, serta narasi populis yang dibungkus seolah-olah demi rakyat,” ujarnya di akun YouTube Ikrar Nusa Bhakti, Ahad (11/1/2026).

Ia menjelaskan, sejumlah ciri klasik fasisme kembali mengemuka: kultus berlebihan terhadap figur politikus, obsesi pada isu keamanan nasional, glorifikasi negara, sikap anti-intelektual, hingga penciptaan musuh internal secara terus-menerus. Semua itu, kata Lukas, menjadi alat efektif untuk membungkam kritik dan melemahkan oposisi.

“Bahasa populis dan jingoisme menjadi sarana paling ampuh. Retorika ‘demi stabilitas’ dan ‘demi rakyat’ digunakan untuk membenarkan pembatasan kebebasan sipil, kriminalisasi kritik, serta pelemahan institusi demokrasi,” katanya.

Lukas menilai, fenomena yang ia sebut sebagai Neo-Orde Baru jauh lebih berbahaya karena hadir secara halus dan legalistik. Demokrasi tetap dipertahankan secara prosedural melalui pemilu, namun substansinya terkikis oleh praktik kekuasaan yang menutup ruang partisipasi publik dan pengawasan masyarakat.

“Ini bukan sekadar nostalgia Orde Baru, melainkan reproduksi sistem kekuasaan lama dalam format baru. Aparat keamanan dan hukum yang seharusnya melindungi warga justru berpotensi menjadi instrumen politik,” tegasnya.

Ia mengingatkan, ketika demokrasi direduksi hanya menjadi rutinitas elektoral, sementara kebebasan pers, independensi penegak hukum, dan kebebasan berpikir ditekan, maka jalan menuju otoritarianisme terbuka lebar.

“Kekuasaan yang candu akan selalu mencari pembenaran. Di situlah bahaya laten itu bekerja—pelan, banal, dan sering kali dianggap wajar,” pungkas Lukas.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *