MoneyTalk, Jakarta – Sastrawan politik Ahmad Khozinudin melontarkan kritik keras terhadap langkah Eggi Sudjana (ES) dan Damai Hari Lubis (DHL) yang diketahui melakukan pertemuan dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Solo. Dalam pernyataannya, Khozinudin menilai pertemuan tersebut sebagai jebakan politik yang justru merusak posisi dan reputasi keduanya di mata publik serta kalangan aktivis.
Menurut Khozinudin, kesalahan paling fatal ES dan DHL adalah mengikat komitmen dengan Jokowi, yang ia sebut sebagai sosok tidak dapat dipercaya. Ia menyebut, kebocoran informasi pertemuan tersebut bukan kebetulan, melainkan bagian dari skenario politik untuk membusukkan citra dan memecah barisan pejuang yang selama ini mengkritisi Jokowi.
“Mereka naif. Mengira bisa membuat kesepakatan dengan orang yang tidak pernah menepati janji. Pertemuan itu dijanjikan rahasia, tapi justru dibocorkan,” ujar Khozinudin dalam pernyataannya, Kamis (15/1).
Khozinudin menilai ada sejumlah indikasi kuat bahwa ES dan DHL sebenarnya menyadari pertemuan itu bermasalah. Ia menyoroti tidak adanya pembahasan rencana kunjungan ke Solo dalam internal Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA), sikap tertutup selama perjalanan, hingga tidak adanya konferensi pers pascapertemuan.
“Kalau itu pertemuan terhormat dan strategis, mengapa disembunyikan? Mengapa mengendap-endap dan menghindari kamera?” kata Khozinudin.
Ia juga menilai kebocoran informasi—baik melalui ajudan Jokowi maupun relawan—sebagai bentuk serangan politik berlapis. Menurutnya, publikasi soal pelukan, doa, dan narasi saling memaafkan sengaja disebarkan untuk menciptakan persepsi bahwa konflik telah selesai, sehingga menekan proses hukum agar tidak berlanjut ke pengadilan.
Dalam pandangan Khozinudin, posisi ES dan DHL kini menjadi serba salah. Di satu sisi, status hukum keduanya belum berubah, namun di sisi lain kepercayaan publik dan basis perjuangan telah runtuh.
“Target Jokowi tercapai: nama ES dan DHL rusak. Tapi perjuangan tidak berhenti, karena membongkar dugaan ijazah palsu bukan milik individu, melainkan milik rakyat,” tegasnya.
Khozinudin juga memperingatkan pihak-pihak lain agar tidak mencoba mendorong “jalan damai” dengan Jokowi atas nama strategi atau keselamatan pribadi. Ia menolak keras narasi kompromi tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk pengkhianatan terhadap nurani dan perjuangan.
“Jangan pernah berdamai dengan penipu. Ini peringatan keras agar tidak ada lagi yang masuk jebakan serupa,” ucapnya.
Menutup pernyataannya, Khozinudin menyampaikan pesan langsung kepada ES dan DHL agar melakukan introspeksi dan pertobatan.
“Secara politik, posisi kalian sudah tamat. Jangan sampai terlambat menyadari sebelum ajal menjemput,” pungkasnya.





