MoneyTalk, Jakarta – Pendakwah Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat Imam Shamsi Ali menyoroti keras ironi dalam kebijakan pendidikan nasional, khususnya terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, program yang diklaim sebagai gerakan global untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia itu tidak akan berdampak nyata jika kesejahteraan guru—terutama guru honorer—masih terabaikan.
“Memang hanya logika terbalik yang bisa memahami ini,” tegas Imam Shamsi Ali dalam keterangannya, Selasa (20/1/2026).
Ia mempertanyakan bagaimana mungkin negara berharap lahir generasi unggul dari sekolah, sementara para guru yang menjadi tulang punggung pendidikan justru hidup dalam ketidakpastian ekonomi.
Imam menilai, MBG pada dasarnya adalah program baik dan telah diterapkan di banyak negara sebagai bagian dari investasi jangka panjang sumber daya manusia. Namun, keberhasilan program tersebut tidak berdiri sendiri. Kualitas pendidikan, kata dia, sangat bergantung pada kualitas dan kesejahteraan tenaga pendidik.
“Program MBG tidak akan memberi manfaat maksimal jika guru tidak punya jaminan untuk mengajar dengan baik, tenang, dan bermartabat,” ujarnya.
Dalam pernyataannya, Imam secara khusus menyinggung kondisi guru honorer yang masih menerima gaji sangat rendah, bahkan ada yang hanya sekitar Rp200 ribu per bulan. Menurutnya, angka tersebut bukan hanya tidak layak, tetapi juga mencerminkan kegagalan negara dalam menempatkan guru sebagai profesi strategis.
“Gaji guru honorer Rp200 ribu? Apa yang bisa dibeli dengan duit itu? Untuk transportasi saja tidak cukup, apalagi untuk memenuhi kebutuhan hidup,” katanya.
Ia menegaskan bahwa tuntutan profesionalisme dan kualitas mengajar yang tinggi tidak bisa dibebankan kepada guru jika negara tidak memberikan dukungan yang sepadan. Dalam kondisi ekonomi yang terhimpit, guru honorer kerap dipaksa mencari pekerjaan tambahan demi bertahan hidup, yang pada akhirnya berdampak pada fokus dan kualitas pengajaran di kelas.
Kesejahteraan Guru Fondasi Pendidikan
Imam Shamsi Ali menekankan bahwa kebijakan pendidikan seharusnya dibangun secara utuh dan berkeadilan. Program gizi, kurikulum, dan infrastruktur memang penting, namun kesejahteraan guru adalah fondasi utama yang tidak boleh diabaikan.
“Kalau negara serius ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, maka mulailah dari memuliakan guru. Bukan hanya dengan slogan, tetapi dengan kebijakan nyata,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa ketimpangan ini berpotensi memperlebar jurang kualitas pendidikan antara daerah dan kelompok sosial tertentu. Sekolah dengan guru honorer bergaji minim akan sulit bersaing dalam mencetak lulusan berkualitas, meskipun program bantuan seperti MBG dijalankan.
Di akhir pernyataannya, Imam Shamsi Ali menyerukan agar pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pendidikan. Menurutnya, MBG seharusnya berjalan seiring dengan reformasi kesejahteraan guru, bukan berdiri sendiri sebagai proyek populis.
“Memberi makan anak-anak di sekolah itu penting. Tapi jangan lupa, yang mendidik mereka setiap hari juga harus bisa makan dengan layak,” pungkasnya.

