MoneyTalk, Jakarta – Bencana alam yang melanda Provinsi Aceh berdampak serius terhadap sektor perkebunan kopi rakyat. Di tiga kabupaten penghasil utama kopi ekspor asal Aceh—Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Bener Meriah—kerusakan kebun kopi dilaporkan mencapai sekitar 30 persen dari total luas 105 ribu hektare.
Koordinator Presidium Forum Aksi (Alumni Kampus Seluruh Indonesia), Mohammad Saturdaya, menyebutkan bahwa kerusakan tersebut merupakan pukulan berat bagi ribuan petani kopi yang menggantungkan hidupnya dari sektor ini.
“Dari total 105 ribu hektare kebun kopi rakyat, sekitar 30 persen atau kurang lebih 35 ribu hektare mengalami kerusakan. Ini bukan angka kecil, dampaknya sangat luas bagi ekonomi rakyat Aceh,” ujar Saturdaya saat melakukan kunjungan lapangan ke Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, Sabtu (24/1/2026).
Hal senada disampaikan Ketua Koperasi Babburayyan, M. Charis, yang turut mendampingi kunjungan Forum Aksi bersama media. Ia mengungkapkan bahwa kerusakan kebun kopi tersebut telah memengaruhi rantai produksi dan distribusi kopi rakyat.
“Pembelian produksi kopi oleh koperasi kami juga menurun drastis karena kebun petani banyak yang rusak. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan,” kata Charis.
Forum Aksi bersama sembilan organisasi masyarakat, di antaranya UI Watch, FPPN, APIB, dan lainnya, hadir di Aceh pada 16–21 Januari 2025 untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan. Sekitar 3 ton bantuan disalurkan berupa sembako, obat-obatan, pakaian baru, 1.300 Al-Qur’an, buku tulis untuk siswa SD, serta 700 amplop bantuan pemulihan psikososial (healing) bagi anak-anak.
Rombongan menyambangi sejumlah desa terdampak bencana di Aceh Utara, Aceh Timur, Bireuen, Aceh Tengah, dan Bener Meriah, sebagai bentuk kepedulian terhadap warga terdampak musibah nasional tersebut.
Dalam pengamatannya di beberapa titik perkebunan kopi rakyat, Saturdaya dan M. Charis menyaksikan langsung kondisi tanaman kopi yang rusak parah. Saturdaya menaksir, setiap petani kopi kehilangan pendapatan sekitar Rp7 juta per bulan per hektare akibat kerusakan kebun.
“Jika satu petani rata-rata memiliki satu hektare kebun kopi, maka ada sekitar 35 ribu petani beserta keluarganya yang kini menghadapi kesulitan ekonomi serius,” ujar Saturdaya yang juga menjabat Wakil Ketua APIB Jakarta.
Ia mendesak Kementerian Pertanian, Pemerintah Provinsi Aceh, serta pemerintah kabupaten terkait agar segera memprioritaskan program pemulihan dan pembangunan kembali kebun kopi rakyat.
“Perlu intervensi cepat dan terukur dari pemerintah pusat dan daerah agar petani kopi bisa bangkit kembali. Kopi Aceh adalah komoditas strategis nasional dan sumber hidup masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, M. Charis memperkirakan dampak sosial dan ekonomi akibat kerusakan kebun kopi ini akan berlangsung cukup panjang.
“Setidaknya dibutuhkan waktu tiga tahun untuk pemulihan kebun kopi hingga kembali produktif. Selama masa recovery itu, petani dan keluarganya akan menghadapi tekanan ekonomi dan sosial yang berat,” pungkasnya.



