MoneyTalk, Jakarta – Rentetan insiden fatal yang melanda layanan Transjakarta dalam 48 jam terakhir memicu kemarahan aktivis mahasiswa. Mahasiswa Muda Transparansi (MMT) secara tegas menyatakan tidak ada lagi ruang kompromi bagi manajemen yang abai terhadap keselamatan nyawa warga Jakarta.Peta
Menyikapi kecelakaan maut di Pondok Labu dan insiden bus berasap di Halte Pancoran (14/2), Ketua Umum MMT, Abid Zahid Fadilah, menilai alasan “titik buta” (blind spot) dan kondisi fisik korban sebagai alibi usang untuk menutupi bobroknya manajemen.
”Jangan gunakan narasi ‘korban sempoyongan’ atau ‘titik buta‘ untuk mencuci tangan. Masalah aslinya adalah armada yang tidak laik namun dipaksakan mengaspal. Kejadian di Halte Pancoran, di mana penumpang berhamburan karena bus berasap, adalah bukti nyata bahwa standar perawatan kita berada di titik nadir,” tegas Abid Zahid Fadilah dalam keterangan tertulisnya, Senin (16/2).
MMT menyoroti adanya dugaan pembiaran terhadap armada yang sudah tidak layak demi mengejar target operasional.
”Kami menuntut Audit Total Kelayakan Armada! Segera lakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap seluruh vendor bus. Jangan ada lagi armada ‘rongsokan’ yang dipaksa beroperasi hanya demi mengejar target kilometer. Ini bukan soal angka, ini soal nyawa manusia!” tambah Abid.
Melihat karut-marut yang tak kunjung usai, MMT mengeluarkan ultimatum keras kepada Balai Kota. Keselamatan warga Jakarta dianggap telah digadaikan oleh jajaran direksi yang tidak kompeten.
”Kami meminta Gubernur Pramono Anung untuk segera mengevaluasi total struktur direksi dan secara tegas MENCOPOT Direktur Operasional Transjakarta. Beliau adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas rentetan petaka ini,” cetus Abid.
Sebagai bentuk keseriusan, MMT menyatakan siap mengambil langkah yang lebih masif jika tuntutan ini diabaikan.
”Jika dalam waktu dekat tidak ada tindakan tegas dari Gubernur, Mahasiswa Muda Transparansi (MMT) SIAP TURUN KE JALAN. Kami akan mengepung Balai Kota untuk menuntut pencopotan Direktur Operasional. Audit total atau kami yang akan bertindak!” tegas Abid menutup keterangannya.
Transjakarta adalah simbol kemajuan Jakarta. Jika manajemennya membiarkan bus menjadi “mesin pencabut nyawa”, maka restrukturisasi total adalah harga mati.



