MoneyTalk, Jakarta – Pengamat geopolitik Hendrajit menyoroti laporan “Bocor Alus” majalah Tempo yang mengangkat dua pelobi asal Amerika Serikat, salah satunya Karen Brooks. Menurutnya, kemunculan nama Karen Brooks dalam konteks kedekatan dengan Presiden Prabowo Subianto justru memunculkan tanda tanya besar.
“Dalam jagad politik bawah Indonesia 1990-an, terutama pasca-1998, Karen Brooks bukan sosok asing di Jakarta. Tapi dia memang lebih banyak bermain di belakang layar,” ujar Hendrajit, Senin (23/2/2026).
Ia mengingatkan, pada era Presiden AS Bill Clinton, Karen Brooks dikenal efektif sebagai penghubung antara Gedung Putih dan lingkar diplomat Partai Demokrat, termasuk Menteri Luar Negeri saat itu, Madeleine Albright.
Menurut Hendrajit, jika menelusuri jejaring relasi politiknya, Karen berada dalam spektrum Partai Demokrat AS, bukan Partai Republik. Karena itu, ia mengaku terkesima ketika Tempo menyebut Karen sebagai konsultan atau pelobi yang dekat dengan Prabowo.
“Seperti menaruh buku di rak yang tidak sesuai klasifikasi temanya,” sindirnya.
Hendrajit menjelaskan, setelah kepemimpinan Clinton berakhir dan digantikan oleh George W. Bush pada 2001, Karen tetap berada di orbit Demokrat. Ia bergabung dengan National Democratic Institute (NDI), lembaga yang juga dipimpin Madeleine Albright.
Dalam konteks Indonesia, Hendrajit menduga—meski belum dapat memastikan—bahwa kemungkinan pintu masuk Karen ke lingkar Prabowo bisa saja melalui Rizal Malarangeng, yang memiliki kedekatan dengan Blair King, eks Direktur Residen NDI di Jakarta dan alumnus Ohio University di bawah bimbingan William Liddle.
Namun ia meragukan bobot peran Karen sebagai mitra strategis Prabowo, terlebih setelah membaca informasi bahwa Karen pernah menginap di Hambalang.
“Saya punya kesan simbolik. Kalau diterima di Istana, itu seremonial. Kalau di Jalan Kertanegara, itu strategis. Kalau di Hambalang, itu biasanya taktis. Jadi belum tentu strategis,” ujarnya.
Hendrajit justru menilai secara historis Karen lebih nyaman berada di orbit Megawati Soekarnoputri dan jejaring Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Karen diketahui merupakan alumnus Program Studi Indonesia di Cornell University, dengan latar akademik yang dipengaruhi oleh Benedict Anderson. Tesis masternya disebut mengangkat tema tentang Soekarno dan politik luar negeri Indonesia.
“Dari kampus dan mentornya saja sudah terlihat ada empati akademik terhadap Sukarno. Bahkan bisa jadi empati ideologis,” kata Hendrajit.
Ia juga menyinggung kedekatan Karen dan akademisi Jeffrey Winters dengan Megawati pada era pemerintahan transisi pasca-1999.
Hendrajit turut mengulas periode pasca-serangan 11 September 2001, ketika Presiden Bush mencanangkan War on Terror dan berupaya membangun dukungan global, termasuk dari Indonesia yang saat itu dipimpin Megawati.
Menurutnya, Megawati tidak sepenuhnya sejalan dengan skema kerja sama AS dalam kerangka War on Terror. Ia menduga Karen Brooks sempat dilibatkan dalam upaya komunikasi tingkat tinggi antara Washington dan Jakarta.
“Kalau melihat konferensi pers saat itu, hanya Bush yang aktif. Mega diam. Itu sinyal bahwa tidak ada kesepakatan penuh,” ujarnya.
Bagi Hendrajit, penyebutan Karen Brooks sebagai sosok strategis di lingkar Prabowo adalah “lompatan kuantum” yang perlu diuji secara investigatif.
“Pertanyaannya, siapa sumber informasi Tempo dan apa motifnya? Dugaan saya, bisa saja ada pihak yang berharap Karen benar-benar masuk lingkar inti Prabowo,” katanya.
Ia menegaskan, relasi profesional dan taktis lintas partai di Amerika adalah hal lumrah. Namun dalam konteks kesejarahan dan jejaring politik Indonesia, menurutnya, terdapat ketidakcocokan “mahzab” jika Karen ditempatkan sebagai figur strategis dalam orbit Prabowo.
“Kontak bisa saja ada. Tapi menyebutnya mitra strategis? Itu perlu pembuktian lebih dalam,” pungkasnya.




