Sirkus “Sujud” Rismon: Antara Simalakama dan Sandiwara “Ilmu Penyesuaian”

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Panggung sirkus ekonomi, birokrasi dan hukum kita baru saja menyuguhkan sebuah plot twist yang sangat melankolis sekaligus menyengat nalar publik. Rismon Sianipar, sosok yang selama ini dikenal sebagai pakar digital forensik yang paling beringas menuduh ijazah mantan penguasa sebagai barang palsu, mendadak melakukan aksi “sujud” permohonan maaf dan mengakui keaslian dokumen tersebut.

Investigasi nurani kami menemukan bahwa perubahan sikap yang sangat dramatis ini bukanlah sekadar urusan “pencerahan ilmiah” yang datang tiba-tiba, melainkan sebuah fenomena sungsang yang aromanya kental bau “Ilmu Penyesuaian” di hadapan sepatu lars kekuasaan.

Sangat luar biasa melihat bagaimana integritas akademik yang dibangun bertahun-tahun bisa rontok hanya dalam hitungan detik di depan kamera. Di negeri “Negara Makelar” ini, kebenaran sering kali bermutasi menjadi barang dagangan yang bisa ditawar-tawar di bawah meja transaksi kepentingan. Kita sedang dipaksa menonton teater di mana seorang ahli dipaksa atau terpaksa memilih antara martabat intelektual atau keselamatan administratif. Sejarah mencatat, bahwa ketika nalar kritis sudah mulai “bersujud” pada tahta, maka kedaulatan nurani bangsa sebenarnya sedang berada dalam kondisi gawat darurat.

Tragedi Rismon atau Jokowi  ini memicu pertanyaan radikal: apakah ini sebuah pertobatan yang tulus, ataukah bagian dari strategi smoke screen (tabir asap) untuk menutupi kegaduhan kebijakan lain yang lebih menyengat, seperti kenaikan Pajak jajan rakyat atau skandal identitas Fufufafa yang kian amis? Di sirkus ini, drama individu sering kali sengaja “digoreng” agar perhatian publik teralihkan dari “perampokan” kedaulatan data dan ekonomi yang sedang berlangsung secara sistemik.

Penulis : Saputra, E. T. Hadi

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *