MoneyTalk, Jakarta – Ratusan massa menggelar aksi di depan kantor Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia atau Bawaslu RI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (20/5/2026). Aksi tersebut digelar untuk memperingati tragedi berdarah 21-22 Mei 2019 yang terjadi pasca aksi penolakan hasil Pemilu 2019.
Aksi yang dipimpin Menuk Wulandari itu dihadiri sejumlah eks aktivis dan relawan pendukung Prabowo Subianto pada Pilpres 2019. Salah satu yang hadir adalah Jalih Pitoeng, sosok yang dikenal sebagai mantan relawan militan Prabowo.
Dalam orasinya, Jalih Pitoeng menegaskan bahwa tragedi kemanusiaan di sekitar kantor Bawaslu tidak boleh dilupakan begitu saja. Menurutnya, peristiwa tersebut merupakan catatan hitam demokrasi Indonesia yang menelan korban jiwa dari kalangan anak muda.
“Peristiwa ini penting diperingati agar masyarakat tahu bahwa pernah terjadi tragedi berdarah yang merenggut nyawa para tunas bangsa akibat aksi-aksi penolakan terhadap dugaan pemilu curang,” ujar Jalih Pitoeng dalam orasinya.
Ia menilai negara memiliki tanggung jawab moral dan politik untuk mengungkap secara terang apa yang sebenarnya terjadi dalam kerusuhan Mei 2019 tersebut. Jalih juga meminta pemerintahan Presiden Prabowo untuk menuntaskan apa yang ia sebut sebagai “residu pemilu” yang hingga kini masih menyisakan luka bagi sebagian masyarakat.
Menurut Jalih, banyak pihak yang menjadi korban dari situasi politik saat itu, termasuk dirinya sendiri. Ia mengaku pernah ditangkap dan diproses hukum terkait rangkaian aksi pasca Pemilu 2019.
“Saya ditangkap dengan tuduhan sebagai otak perencanaan penggagalan pelantikan Presiden Jokowi pada Oktober 2019 lalu,” kata Jalih di hadapan massa aksi.
Dalam kesempatan itu, Jalih menyebut dirinya sebagai salah satu “tumbal demokrasi hitam” akibat dinamika politik yang memanas setelah Pemilu 2019. Ia mengaku mengalami berbagai tekanan hukum dan sosial setelah peristiwa tersebut.
Selain melakukan orasi politik, massa aksi juga menggelar doa bersama untuk para korban yang meninggal dalam kerusuhan 21-22 Mei 2019. Sejumlah peserta aksi membawa spanduk dan poster berisi tuntutan agar negara memberikan keadilan kepada keluarga korban.
Beberapa orator juga meminta agar tragedi tersebut diusut secara transparan dan independen. Mereka menilai hingga kini masih banyak pertanyaan publik yang belum terjawab terkait jatuhnya korban jiwa dalam kerusuhan di sekitar kantor Bawaslu.
Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat kepolisian. Massa secara bergantian menyampaikan pidato dan refleksi politik terkait perjalanan demokrasi Indonesia pasca Reformasi.
Video orasi Jalih Pitoeng dalam aksi tersebut juga diunggah melalui kanal YouTube dan beredar luas di media sosial. Dalam tayangan itu, Jalih menegaskan pentingnya rekonsiliasi nasional yang dibangun di atas pengungkapan kebenaran dan keadilan bagi korban.
“Negara tidak boleh melupakan darah para pejuang demokrasi. Jangan sampai sejarah kelam ini terkubur tanpa penyelesaian,” tegasnya.





