MoneyTalk.id, Jakarta – Pegiat media sosial Jhon Sitorus mengkritik pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono terkait upaya mencegah kasus keracunan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Jhon menilai, imbauan agar guru makan bersama siswa justru berpotensi menambah jumlah orang yang terdampak apabila makanan yang disajikan dalam program MBG mengalami masalah keamanan pangan.
“Kirain Sudaryono ini lebih baik dari Nanik & Dadan, ternyata sama saja kualitasnya, sering blunder,” ujar Jhon Sitorus dalam pernyataannya, Selasa (11/8/2026).
Menurut Jhon, meminta guru ikut makan bersama siswa sebagai langkah pencegahan keracunan MBG bukan solusi yang tepat. Ia berpendapat, apabila makanan yang dikonsumsi siswa ternyata tidak aman, guru juga berpotensi mengalami gangguan kesehatan.
“Meminta guru makan bersama dengan siswa untuk cegah keracunan MBG sama saja dengan menambah potensi angka keracunan. Bukan hanya siswa yang keracunan, tapi guru juga ikut keracunan,” katanya.
Jhon kemudian menyarankan agar mekanisme pengawasan terhadap keamanan makanan dilakukan lebih dekat pada pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan dapur MBG.
Ia mengusulkan agar kepala dan pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) makan bersama siswa di sekolah. Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi bentuk tanggung jawab sekaligus mendorong pengelola dapur SPPG lebih serius memastikan kualitas makanan sebelum didistribusikan.
“Seharusnya, Sudaryono menyuruh kepala dan pegawai SPPG makan bersama siswa di sekolah agar mereka sebagai pelaksana dan pengelola dapur MBG benar-benar serius mengelola dapur masing-masing,” ujar Jhon.
Ia juga meminta agar persoalan keamanan dan kesehatan makanan menjadi perhatian utama sebelum makanan MBG diberikan kepada siswa maupun tenaga pendidik.
“Jangan lempar sesuatu yang tak pasti keamanan dan kesehatannya ke sekolah, terutama siswa dan para guru,” tegasnya.
Lebih lanjut, Jhon mempertanyakan dampak terhadap kegiatan belajar mengajar apabila persoalan kesehatan akibat makanan MBG terus terjadi. Menurut dia, siswa dan guru semestinya dapat menjalankan aktivitas pendidikan secara optimal, bukan justru berulang kali berurusan dengan fasilitas kesehatan.
“Kalau siswa dan guru selalu berurusan dengan rumah sakit, lalu kapan mereka belajarnya? Kapan tujuan BGN dan pendidikan nasional akan tercapai?” katanya.
Kritik tersebut menyoroti pentingnya penguatan pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG. Selain memastikan makanan memenuhi standar gizi, proses pengadaan bahan, pengolahan, penyimpanan, distribusi, hingga konsumsi di sekolah menjadi bagian penting untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan.
Program MBG sendiri merupakan salah satu program pemerintah yang pelaksanaannya melibatkan SPPG sebagai unit yang menyiapkan dan mendistribusikan makanan kepada penerima manfaat. Karena menyasar pelajar dalam jumlah besar, aspek keamanan pangan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan program tersebut.





