Sri Mulyani Biang Sumbatan Ekonomi, Purbaya Jadi Harapan Baru Bangsa

  • Bagikan

MoneyTalk,Jakarta – Wartawan ekonomi senior Kisman Latum Kulita melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan fiskal era Sri Mulyani Indrawati. Menurutnya, selama ini kas pemerintah yang mencapai ratusan triliun rupiah ditaruh di Bank Indonesia (BI) tanpa dimanfaatkan untuk pertumbuhan, sehingga justru menimbulkan beban bunga dan menghambat ekonomi nasional.

“Bayangkan, ada Rp500 triliun ditaruh di BI. Pemerintah tetap harus bayar bunga Rp5 triliun tiap bulan gara-gara uang itu berasal dari utang lewat surat berharga negara. Jadi uangnya disimpan, tapi bunganya jalan terus. Itu kan enggak produktif,” kata Kisman dalam podcast Roemah Pemoeda, Sabtu (13/09).

Kisman menilai selama era Sri Mulyani, dua mesin utama penggerak ekonomi fiskal dan moneter  justru macet. Pertumbuhan ekonomi hanya berkutat di kisaran 4–5% dan tidak pernah lepas dari desain yang menurutnya sengaja dibuat stagnan.

“Selama ini kita cuma autopilot di 4,5%. Itu pun karena konsumsi. Sisanya nyaris nol. Kalau ini disengaja, ya ini kejahatan terhadap negara,” ujarnya tegas.

Dalam pernyataannya, Kisman bahkan menyebut Sri Mulyani sebagai “penjahat negara, lebih dari teroris” karena dianggap merancang kebijakan yang membuat Indonesia tidak bisa tumbuh lebih tinggi. Ia menduga kebijakan tersebut sejalan dengan agenda IMF dan Bank Dunia yang ingin menjadikan Indonesia sekadar pasar, bukan kekuatan ekonomi dunia.

“Kalau pertumbuhan ekonomi ditahan, rakyat jadi miskin, negara tidak maju. Itu pengkhianatan. Kejahatan ekonomi ini levelnya lebih tinggi dari subversif,” tegas Kisman.

Sebaliknya, Kisman mengaku optimistis dengan langkah cepat Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menilai gaya Purbaya yang ceplas-ceplos, terbuka pada kritik, dan berani mengambil keputusan mirip dengan almarhum ekonom Rizal Ramli di era Presiden sah Dur.

Bahkan, baru tiga hari dilantik, Purbaya sudah menyalurkan sekitar Rp200 triliun dana pemerintah dari BI ke bank umum untuk menggerakkan kredit. “Langkah itu langsung membuat pasar merespon positif, rupiah menguat, IHSG naik. Ini baru menteri keuangan yang menghidupkan mesin ekonomi,” ujar Kisman.

Kisman optimistis dengan kombinasi Presiden Prabowo Subianto dan Menkeu Purbaya, Indonesia bisa keluar dari jebakan pertumbuhan rendah. Ia bahkan yakin target pertumbuhan 8% bisa tercapai, bahkan lebih.

“Kalau Gus Dur bisa dari -4% ke +7,5% dalam 23 bulan, kenapa sekarang tidak bisa? Dengan sumber daya selengkap Indonesia, 8–9% itu realistis,” katanya.

Kisman menegaskan, keberanian Purbaya bisa mengganggu banyak kepentingan lama. Karena itu, ia meminta Presiden Prabowo memberikan pengawalan ketat agar Menteri Keuangan tidak diganggu.

“Satu nyawa Purbaya itu nilainya seribu kali lipat lebih penting dibanding mereka yang selama ini menghambat bangsa. Jangan sampai beliau diganggu, bahkan sampai ada upaya jahat. Ini menyangkut masa depan Indonesia,” pungkas Kisman.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *