Ekonom Ferry Latuhihin Ledek Purbaya: ‘Kebijakanmu Menghina Kecerdasan Saya!

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta –  Suasana Indonesia Lawyers Club edisi Jumat (10/10) memanas ketika Prof. Ferry Latuhihin, ekonom senior sekaligus dosen ekonomi internasional, melontarkan kritik tajam terhadap Menteri Perekonomian Purbaya.

Tanpa basa-basi, Ferry menilai kebijakan Purbaya sebagai “menyalahi hukum ekonomi” dan bahkan menyebut pernyataannya “menghina kecerdasan saya.”

“Saya tidak menilai orang dari gayanya, tapi dari logika ucapannya. Kalau pernyataan Anda masuk akal, saya apresiasi. Tapi kalau pernyataan Anda menghina kecerdasan saya, saya serang. Simple,” tegas Ferry di hadapan Karni Ilyas dan para panelis.

Ferry kemudian menguliti satu per satu argumen ekonomi Purbaya. Ia menyoroti kebijakan kucuran dana Rp200 triliun ke sistem perbankan yang menurutnya tidak memiliki efek signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

“Dengan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) 6,7, kalau duit itu betul-betul disalurkan lewat kredit bank, pertumbuhan ekonomi hanya naik 0,06%. Bagaimana bisa Purbaya bilang 3 bulan lagi ekonomi tumbuh 6%? Come on, itu harapan palsu, Bos!”

Tak berhenti di situ, Ferry juga membeberkan data anjloknya pertumbuhan kredit perbankan ke 7,02%, sementara undisbursed loan (kredit yang tidak tersalurkan) sudah menembus Rp2.735 triliun.

“Sekarang mau nambah 200 triliun lagi? Itu bukan dorongan ekonomi, itu beban bagi bank,” ujarnya dengan nada tinggi.

Ini Kebijakan yang Nonsens

Menurut Ferry, logika Purbaya yang menyamakan peningkatan money supply dengan penurunan suku bunga juga “tidak masuk akal secara teori ekonomi.”

“Bank tidak bekerja seperti itu, Bos. Walaupun BI turunkan policy rate, kalau situasi ekonomi suram, bank tetap tak mau kasih bunga rendah. Jadi kalau Purbaya mau gabungkan fiscal dan monetary policy sekaligus, itu nonsense,” ucapnya.

Ia juga menyoroti kebijakan pemerintah menaikkan bunga deposito dolar untuk mencegah capital flight. Ferry menyebut kebijakan itu salah kaprah.

“Yang namanya capital flight bukan hanya dolar pindah ke Singapura. Saat rupiah dikonversi ke dolar saja, itu sudah capital flight. Jadi berpikir seperti itu sudah salah total,” paparnya.

Purbaya Effect: Rupiah Tersungkur

Ferry menuding kebijakan Purbaya justru memperburuk kondisi nilai tukar.

“Lihat saja, dolar sempat tembus Rp16.700. Kalau BI tidak intervensi total, bisa lewat Rp17.000. Ini saya sebut ‘Purbaya Effect’, dan tidak ada satu pun yang positif!” katanya disambut tepuk tangan penonton.

Masalah Kita Ada di Software, Bukan Hardware

Lebih jauh, Ferry menilai masalah fundamental ekonomi Indonesia bukan di infrastruktur, melainkan pada tata kelola dan institusi.

“Zaman Pak Jokowi infrastruktur dibangun di mana-mana, tapi produktivitas malah turun. Artinya problemnya bukan di hardware, tapi di software  regulasi, birokrasi, rule of law, korupsi. Ini problem institusional,” tegasnya.

Prediksi Suram: Indonesia Bisa Seperti Thailand

Dengan kondisi seperti sekarang, Ferry pesimistis ekonomi Indonesia bisa bertahan stabil.

“Saya prediksi, tiga tahun ke depan kita bisa seperti Thailand zero growth. Dengan pertumbuhan 2% saja, kita sudah tidak bisa serap tenaga kerja baru. Itu artinya pengangguran akan melonjak,” ujarnya.

Sri Mulyani vs Purbaya: Sama-Sama Bermasalah

Ketika ditanya perbandingan antara Sri Mulyani dan Purbaya, Ferry menjawab lugas.

“Sri Mulyani itu kasir negara. Selama defisit di bawah 3%, dia biarkan apa pun kebijakan presiden. Tapi Purbaya? Dia melanggar hukum ekonomi. Keduanya punya kelemahan, tapi Purbaya lebih bahaya karena bermain di logika kebijakan yang salah,” sindirnya.

Ferry juga mengkritik paper akademik Purbaya yang menurutnya “hanya penuh tabel dan grafik tanpa model ekonomi yang jelas.”

“Dia bilang 8% growth bisa dicapai. Tapi di mana model ekonominya? Di mana equation-nya? Jangan jual harapan palsu dengan chart dan tabel, Bos!”

Ferry menegaskan bahwa kritiknya bukan bersifat personal, melainkan akademik dan rasional.

“Saya bukan tidak suka Purbaya. Tapi kalau kebijakan Anda menyalahi hukum ekonomi dan mengancam masa depan bangsa, saya wajib bicara. Ini soal logika, bukan gaya bicara.”

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *