MoneyTalk, Jakarta – Pernyataan mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, menjadi sorotan publik setelah diunggah melalui platform X pada Selasa (18/3/2026). Dalam unggahannya, Said Didu menyinggung soal kepemimpinan dengan membandingkan pandangan tokoh-tokoh nasional di masa lalu dengan kondisi saat ini.
Ia mengawali pernyataannya dengan mengutip pandangan Muhammad Jusuf pada era 1990-an yang menyebut bahwa tidak semua komandan mampu menjadi panglima. Selain itu, ia juga mengingatkan analogi dari B. J. Habibie yang menyatakan bahwa mengangkat montir terbaik menjadi pimpinan bengkel tidak selalu menghasilkan kepemimpinan yang baik.
Dalam konteks kekinian, Said Didu kemudian menyampaikan kritik tajam terhadap fenomena sosial dan kepemimpinan. Ia menulis bahwa “orang bodoh yang licik dan pembohong bisa memperalat, mengalahkan dan menggusur orang pintar dan baik yang tidak punya idealisme.”
Pernyataan tersebut langsung memicu beragam respons dari warganet. Sebagian menilai ungkapan tersebut sebagai kritik keras terhadap kondisi kepemimpinan dan moralitas di berbagai sektor, sementara lainnya menganggapnya sebagai refleksi atas dinamika sosial-politik yang tengah berkembang.
Unggahan ini kembali menegaskan gaya komunikasi Said Didu yang dikenal lugas dan kerap menyoroti isu-isu strategis nasional, terutama terkait tata kelola pemerintahan dan kepemimpinan.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak-pihak yang secara langsung disinggung dalam pernyataan tersebut. Namun, diskursus publik di media sosial masih terus bergulir, menjadikan isu kepemimpinan sebagai salah satu topik hangat di ruang digital Indonesia.





