MoneyTalk, Jakarta – Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali menjadi sorotan tajam. Guru Besar Ilmu Komunikasi dari Universitas Airlangga, Henri Subiakto, menilai bahwa serangan balasan Iran beserta kelompok proksinya terhadap Israel kini semakin sulit disembunyikan dari pemberitaan media global, termasuk di Indonesia.
Menurut Henri, intensitas serangan yang meningkat dalam beberapa waktu terakhir telah memaksa media arus utama untuk memberitakannya secara lebih terbuka. Hal ini terlihat dari laporan berbagai media, termasuk Sindo News yang mengangkat secara dramatis serangan besar yang terjadi di Tel Aviv pada Sabtu malam, 28 Maret 2026.
“Serangan balasan Iran dan proksinya yang makin intensif menyasar Israel nampaknya sulit disembunyikan lagi dari liputan media konvensional. Bahkan media di Indonesia pun mulai memberitakan secara lebih terbuka,” ujar Henri dalam keterangannya, Ahad (29/3/2026).
Ia menilai, perubahan pola pemberitaan ini menunjukkan adanya pergeseran dalam dinamika informasi global. Jika sebelumnya banyak media cenderung berhati-hati atau selektif dalam mengangkat eskalasi serangan, kini realitas di lapangan membuat narasi tersebut tak lagi bisa dibatasi.
Serangan yang terjadi di Tel Aviv dilaporkan berlangsung secara masif dan memicu kepanikan warga. Sejumlah laporan menyebutkan adanya rentetan serangan yang diduga melibatkan kelompok proksi Iran di kawasan, yang selama ini menjadi bagian dari strategi tekanan terhadap Israel.
Henri juga menyoroti bahwa keterbukaan media dalam melaporkan konflik ini akan berdampak pada persepsi publik internasional. Menurutnya, publik kini memiliki akses informasi yang lebih luas dan beragam, sehingga narasi tunggal menjadi semakin sulit dipertahankan.
“Ini bukan hanya soal konflik militer, tetapi juga perang informasi. Ketika media mulai membuka ruang pemberitaan yang lebih luas, maka opini publik global juga akan ikut terbentuk secara lebih dinamis,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa perkembangan ini dapat mempengaruhi posisi negara-negara lain, termasuk Indonesia, dalam memandang konflik di Timur Tengah. Keterbukaan informasi dinilai akan memperkuat tekanan terhadap aktor-aktor global untuk mengambil sikap yang lebih jelas.


