Muhammadiyah dan Kemandirian Pertahanan, Pengamat Dorong UAD Kirim Ahli Rudal ke Iran 

  • Bagikan
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah

MoneyTalk, Jakarta – Langkah  Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dalam mengembangkan Rudal Merapi dinilai bukan sekadar capaian akademik, melainkan sinyal kuat bahwa kekuatan sipil-keilmuan Indonesia mampu masuk ke sektor strategis pertahanan nasional.

Rudal Merapi, rudal anti-pesawat jenis Man-Portable Air Defense System (MANPADS) tipe panggul buatan lokal dengan jangkauan sekitar 6 kilometer, menjadi bukti bahwa kampus berbasis Islam berkemajuan mampu berkontribusi langsung terhadap kemandirian industri pertahanan nasional. Rudal ini dirancang untuk memburu panas (heat seeking), dikembangkan sejak 2016 oleh tim Cirnov UAD bersama PT Dahana, dan telah menjalani uji coba di Lumajang.

Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, menilai proyek tersebut harus dipandang sebagai pintu masuk menuju lompatan teknologi pertahanan yang jauh lebih besar.

Menurut Amir, Indonesia tidak boleh berhenti hanya pada pengembangan rudal jarak pendek kelas MANPADS, tetapi harus berani masuk ke penguasaan teknologi rudal supersonik hingga hipersonik yang saat ini menjadi penentu utama kekuatan militer global.

“UAD sudah membuktikan kapasitas intelektualnya melalui Rudal Merapi. Ini bukan proyek biasa. Ini adalah embrio kemandirian strategis bangsa. Kalau serius, UAD harus mengirimkan ahli rudalnya ke Iran untuk belajar langsung bagaimana membangun sistem rudal supersonik dan hipersonik,” ujar Amir Hamzah dalam analisisnya, Jumat (24/4/2026).

Menurutnya, Iran adalah salah satu negara yang paling relevan untuk dijadikan rujukan pembelajaran, karena berhasil membangun kekuatan rudal secara mandiri di tengah tekanan embargo, sanksi internasional, dan isolasi geopolitik yang sangat berat.

Iran, kata Amir, berhasil membuktikan bahwa keterbatasan akses terhadap teknologi Barat bukan hambatan mutlak untuk membangun sistem pertahanan modern. Justru tekanan geopolitik memaksa mereka menciptakan inovasi domestik yang kini diperhitungkan dunia.

“Iran bukan hanya bertahan, tapi menjadi salah satu pemain utama dalam teknologi rudal regional. Mereka mengembangkan presisi, kecepatan, daya jangkau, hingga sistem peluncuran yang sangat kompleks. Indonesia harus belajar dari model kemandirian itu,” tegasnya.

Ia menilai, kerja sama akademik dan teknologi antara UAD dengan lembaga riset strategis di Iran dapat menjadi jalan cepat untuk transfer pengetahuan yang selama ini sulit diperoleh dari negara-negara Barat.

Dalam perspektif intelijen geopolitik, Amir menjelaskan bahwa perang modern hari ini tidak lagi ditentukan hanya oleh jumlah personel militer, tetapi oleh dominasi teknologi presisi tinggi. Negara yang menguasai sistem rudal canggih akan memiliki daya tawar strategis yang jauh lebih besar dalam diplomasi maupun pertahanan.

Karena itu, ia melihat pengembangan rudal oleh kampus seperti UAD memiliki makna geopolitik yang sangat penting: membangun deterrence atau daya gentar nasional.

“Deterrence itu bukan sekadar membeli alutsista mahal dari luar negeri. Deterrence sejati lahir dari kemampuan memproduksi sendiri. Ketika dunia tahu Indonesia mampu membuat rudal sendiri, posisi tawar kita berubah,” katanya.

Amir menegaskan bahwa Muhammadiyah, melalui UAD, sedang menunjukkan wajah Islam berkemajuan yang konkret. Bukan hanya bicara pendidikan dan sosial, tetapi juga ikut menjaga kedaulatan bangsa melalui inovasi teknologi strategis.

Baginya, inilah bentuk nyata kontribusi organisasi Islam modern terhadap negara: menciptakan sumber daya manusia unggul yang mampu menjawab tantangan pertahanan abad ke-21.

“Islam berkemajuan tidak boleh hanya berhenti pada narasi moral. Ia harus hadir dalam teknologi, sains, industri, dan pertahanan negara. Muhammadiyah sedang menunjukkan itu,” jelasnya.

Ia bahkan menyebut bahwa pengembangan rudal nasional oleh UAD dapat menjadi model baru kolaborasi antara kampus, industri pertahanan, dan negara. Selama ini, sektor pertahanan kerap dianggap eksklusif milik militer atau BUMN tertentu, padahal kampus memiliki sumber daya intelektual yang sangat besar.

Dengan dukungan kebijakan negara yang kuat, proyek seperti Rudal Merapi bisa berkembang menjadi ekosistem industri pertahanan nasional yang berkelanjutan.

Amir juga menyoroti pentingnya keberanian politik pemerintah untuk mendukung riset-riset strategis semacam ini. Tanpa dukungan anggaran, perlindungan kebijakan, dan keberpihakan nasional, inovasi pertahanan hanya akan berhenti sebagai prototipe laboratorium.

“Kalau negara serius, Rudal Merapi jangan hanya jadi simbol. Ini harus naik kelas menjadi sistem operasional nasional. Dari sini kita bicara rudal jelajah, rudal supersonik, bahkan hipersonik,” ujarnya.

Lebih jauh, ia melihat potensi ekspor juga terbuka jika Indonesia mampu menghasilkan sistem rudal dengan kualitas kompetitif. Banyak negara berkembang membutuhkan sistem pertahanan efektif dengan biaya yang lebih terjangkau dibanding produk Barat.

Indonesia, menurut Amir, bisa mengambil posisi itu.

“Kita jangan hanya jadi pasar alutsista dunia. Kita harus menjadi produsen. Bahkan eksportir. Dan itu bisa dimulai dari kampus seperti UAD,” katanya.

Dalam konteks global yang semakin tidak pasti, mulai dari konflik kawasan Timur Tengah, rivalitas Laut China Selatan, hingga eskalasi perlombaan senjata di Asia Pasifik, Indonesia membutuhkan fondasi pertahanan yang mandiri dan berdaulat.

Bagi Amir Hamzah, Rudal Merapi bukan sekadar proyek teknologi.

Ia adalah simbol bahwa bangsa ini sebenarnya mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Dan ketika Muhammadiyah mengambil peran melalui UAD, pesan yang lahir menjadi sangat kuat: bahwa menjaga kedaulatan bangsa adalah bagian dari ibadah peradaban.

“Jika kampus Islam bisa melahirkan rudal, itu artinya umat tidak hanya bicara masa lalu kejayaan Islam, tetapi sedang membangun masa depan Indonesia,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *