Kinerja Keuangan Telkom Merosot Tajam, CBA Desak Pemerintah Copot Dian Siswarini

  • Bagikan
Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Dian Siswarini

MoneyTalk, Jakarta – Center For Budget Analysis (CBA) mendesak Pemerintah selaku pemegang saham mayoritas untuk segera mengevaluasi posisi Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Pasca pengangkatan Dian Siswarini dalam RUPST 27 Mei 2025, performa finansial raksasa telekomunikasi tersebut justru menunjukkan tren penurunan yang mengkhawatirkan di sepanjang tahun 2025.

Direktur Eksekutif CBA, Uchok Sky Khadafi, menilai PT Telkom di bawah kepemimpinan Dian Siswarini gagal menjaga stabilitas manajemen keuangan perusahaan.

Berdasarkan data yang dihimpun CBA, pendapatan PT Telkom mengalami kontraksi cukup dalam. Pada tahun 2025, pendapatan perusahaan tercatat hanya sebesar Rp109,6 triliun, turun signifikan dibandingkan capaian tahun 2024 yang mencapai Rp112,2 triliun.

“Ada penurunan pendapatan sebesar Rp2,6 triliun hanya dalam waktu satu tahun. Ini sinyal merah bagi kesehatan perusahaan,” ujar Uchok Sky Khadafi dalam keterangan tertulisnya pada senin (11/05/26).

Kondisi ini berbanding lurus dengan perolehan laba bersih. Laba perusahaan yang pada tahun 2024 mampu menyentuh angka Rp23 triliun, merosot menjadi Rp20,9 triliun pada tahun 2025, atau berkurang sebesar Rp2,1 triliun.

Likuiditas Perusahaan Tergerus

Selain laba dan pendapatan, Uchok menyoroti terkurasnya cadangan kas dan deposito perusahaan yang diibaratkan seperti “air yang mengalir deras menuju musim kering.”

Kas Bank: Mengalami penyusutan sebesar Rp721 miliar, dari Rp23,3 triliun (2024) menjadi Rp22,6 triliun (2025).

Deposito Bank: Merosot tajam hingga Rp2,3 triliun, dari angka Rp33,9 triliun (2024) ke posisi Rp31,5 triliun (2025).

Desakan Perubahan Kepemimpinan

Melihat fundamen perusahaan yang mulai goyah, CBA meminta pemerintah segera menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa untuk mengganti jajaran direksi, khususnya Direktur Utama.

“Penurunan kinerja ini memperlihatkan bahwa Dian Siswarini tidak memiliki kompetensi yang cukup dalam mendulang pendapatan di tengah tantangan pasar. Jika tetap dipertahankan, kinerja keuangan dikhawatirkan akan terus merosot hingga ke titik kerugian,” tegas Uchok.

Uchok menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa akumulasi kehilangan dana dari sektor pendapatan, laba, hingga instrumen deposito adalah bukti nyata ketidakamanaahan dalam mengelola aset negara.

“Pemerintah jangan tinggal diam melihat tiang fundamen Telkom keropos. Segera cari pengganti yang lebih mumpuni sebelum terlambat,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *