Pasukan Berani Mati Jokowi, Fakta atau Hoax?

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Sejak awal September 2024, beredar isu panas mengenai rencana apel siaga yang akan dihadiri oleh 20.000 anggota “Pasukan Berani Mati Bela Jokowi.”

Dan Isu ini menyebutkan bahwa pada Minggu, 22 September 2024, pasukan tersebut akan berkumpul di kawasan Patung Kuda, Jakarta, untuk menunjukkan dukungan mereka kepada Presiden Joko Widodo yang sering diserang oleh kritik dan hoax.

Isu ini semakin memanas ketika Habib Rizieq Shihab menyerukan kepada laskar-laskar Islam untuk mempersiapkan diri dan “mengasah golok” dalam menghadapi pasukan tersebut. Narasi ini langsung viral di media sosial, terutama setelah video pernyataan Habib Rizieq tersebar luas, membuat suasana menjadi semakin tegang.

Namun, pada hari yang dinanti-nantikan, situasi di lapangan jauh berbeda dari yang diprediksi. Berdasarkan pantauan beberapa media,  kawasan Patung Kuda dan sekitarnya tetap berjalan normal.

Tidak ada tanda-tanda apel besar-besaran atau kerumunan massa seperti yang ramai diperbincangkan. Bahkan, jalanan di sekitar Patung Kuda terlihat ramai lancar tanpa ada penutupan atau pengamanan khusus dari pihak kepolisian.

Dalam sebuah wawancara, mantan Panglima TNI Jenderal Purnawirawan Gatot Nurmantyo turut mengomentari isu ini.

Gatot menyatakan bahwa informasi terkait apel Pasukan Berani Mati Bela Jokowi adalah hoax. Tidak ada pemberitahuan resmi kepada pihak kepolisian atau Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) mengenai aksi tersebut.

Jika memang benar ada aksi, Gatot menyebut bahwa Presiden Jokowi pastinya akan mengandalkan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), TNI, dan Polri untuk melindungi dirinya, bukan pasukan lain yang disebut-sebut.

Isu ini juga diangkat dalam tayangan di kanal YouTube Tjandra Tedja pada Senin, 23 September 2024. Dalam videonya, Tjandra membahas bahwa isu pasukan ini kemungkinan hanya strategi untuk memanaskan situasi politik dan menciptakan kesan seolah-olah Presiden Jokowi ketakutan hingga perlu menggalang “Pasukan Berani Mati.”

Dalam penelusuran lebih lanjut, ternyata beberapa tokoh seperti Habib Rizieq Shihab dan Amien Rais juga ikut menyebarkan narasi terkait pasukan ini di media sosial.

Bahkan, sebuah foto yang viral di media sosial memperlihatkan sejumlah orang dengan bendera mendukung Jokowi, yang kemudian diklaim sebagai pasukan berani mati. Namun, berdasarkan investigasi dari Partai Sosmed, foto tersebut ternyata diambil dari acara relawan Jokowi pada 31 Januari 2019, lima tahun lalu, yang telah dipotong dan dimanipulasi untuk menyebarkan hoax.

Pasca isu ini terbongkar sebagai hoax, tidak ada permintaan maaf resmi dari pihak-pihak yang menyebarkannya, termasuk dari Ari Prasetyo, salah satu penyebar isu utama di Twitter, serta Habib Rizieq dan Amien Rais.

Kejadian ini sekali lagi menunjukkan betapa rentannya masyarakat terhadap hoax, terutama yang menyangkut isu politik yang sensitif.

Hoax seperti ini tidak hanya memengaruhi persepsi publik terhadap Presiden Jokowi, tetapi juga dapat memecah belah masyarakat dan memicu ketegangan di antara berbagai kelompok.

Sebagai pelajaran, sangat penting untuk selalu memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya lebih lanjut. Klarifikasi dari pihak berwenang dan media yang terpercaya adalah langkah penting untuk mencegah penyebaran berita palsu yang dapat menimbulkan kekacauan.(c@kra)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *