MoneyTalk, Jakarta – Di tengah berbagai laporan optimis mengenai perekonomian Indonesia, ada narasi berbeda disuarakan oleh Awalil Riky dalam kanal YouTube-nya, Senin, 14 Oktober 2024.
Awalil menyoroti penurunan daya beli masyarakat yang semakin memburuk. Dalam analisisnya, ia membedah beberapa indikator ekonomi mikro yang menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga mengalami tekanan.
Menurut Awalil, penjualan beberapa produk esensial seperti sandang mengalami penurunan. Ia menganggap hal ini sebagai cerminan nyata dari daya beli yang lemah.
Awalil mengungkapkan bahwa kebutuhan sandang menjadi salah satu indikator mikro yang penting dalam memahami ekonomi. Ketika masyarakat mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan dasar seperti sandang, ini menandakan bahwa daya beli mereka telah tergerus.
Sandang sering kali menjadi pos pengeluaran yang dikurangi terlebih dahulu ketika orang mengalami kesulitan finansial. Ini menunjukkan bahwa masyarakat saat ini mungkin lebih memprioritaskan kebutuhan pokok seperti pangan.
Awalil mengatakan, “Jika penjualan sandang menurun, itu berarti daya beli masyarakat lemah. Ini adalah salah satu sinyal bahwa masyarakat secara umum sedang berhemat.”
Penurunan dalam penjualan sandang menandakan bahwa konsumen semakin sulit untuk mengalokasikan pendapatan untuk kebutuhan sekunder.
Awalil juga membahas konsumsi barang budaya dan rekreasi sebagai indikator ekonomi yang menarik. Meskipun beberapa acara besar, seperti konser, masih laris manis, hal ini tidak menggambarkan keadaan secara keseluruhan. Di banyak daerah, penurunan pada sektor ini cukup signifikan, dengan banyak pertunjukan yang bahkan harus tutup. Ia menjelaskan,
“Meskipun ada konser besar yang ramai, itu hanya di segmen tertentu. Faktanya, penurunan konsumen dalam budaya dan rekreasi di daerah justru memperlihatkan adanya keterpurukan ekonomi yang lebih luas,” katanya.
Mengacu pada data survei Bank Indonesia, Awalil menunjukkan bahwa konsumsi untuk rekreasi mengalami penurunan lebih dari 60% dibandingkan tahun 2010. Sektor ini, menurutnya, adalah salah satu yang pertama kali akan merosot ketika daya beli masyarakat turun. Pengeluaran untuk budaya dan rekreasi dianggap sebagai kebutuhan tersier, sehingga penurunan tajam ini mengindikasikan kondisi finansial yang lebih ketat di tengah masyarakat.
Salah satu temuan yang dianggap cukup mengejutkan oleh Awalil adalah penurunan penjualan di sektor peralatan informasi dan komunikasi. Dulu, sektor ini pernah tumbuh hingga 450% di tahun 2017 dibandingkan 2010. Namun kini, data menunjukkan bahwa penjualannya bahkan lebih rendah dari tahun 2010.
Awalil melihat fenomena ini sebagai bukti bahwa masyarakat semakin cenderung mempertahankan perangkat lama mereka sampai rusak, ketimbang menggantinya dengan yang baru. Ini menunjukkan adanya tren penurunan pembelian barang-barang teknologi yang biasanya selalu diminati.
Awalil berkata, “Orang-orang sekarang lebih cenderung menunda penggantian perangkat mereka. Ketika penjualan peralatan komunikasi turun, ini menjadi indikator bahwa orang-orang lebih berhemat dan mulai mengurangi pengeluaran pada barang-barang sekunder.”
Awalil juga mengkritik laporan Bank Indonesia yang mengesankan bahwa penjualan eceran tetap tumbuh. Ia menekankan perbedaan antara pertumbuhan year-to-year dan month-to-month. Menurutnya, laporan yang menonjolkan pertumbuhan tahunan dapat mengaburkan penurunan konsumsi bulanan yang sebenarnya mengindikasikan tren penurunan. Dalam survei tersebut, penjualan eceran pada Agustus 2024 menunjukkan indeks sebesar 215% dari penjualan tahun dasar 2010. Namun, penjualan untuk bulan September diperkirakan turun dibandingkan Agustus.
Ia menegaskan bahwa penggunaan judul optimis dalam laporan Bank Indonesia perlu diimbangi dengan analisis yang jujur mengenai data.
“Jika dilihat secara year-to-year memang ada peningkatan, tetapi month-to-month-nya turun. Hal ini menunjukkan daya beli masyarakat yang secara real-time semakin menurun,” jelasnya.
Dampak penurunan daya beli masyarakat terhadap perekonomian tidak bisa dianggap sepele. Menurunnya penjualan di sektor-sektor seperti sandang, barang budaya, dan komunikasi mencerminkan penurunan ekonomi secara keseluruhan, terutama dalam segi konsumsi rumah tangga yang sangat berpengaruh pada PDB. Jika tren ini berlanjut, dampaknya bisa merembet ke sektor lain dan akhirnya memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional.
Penurunan daya beli ini juga berpotensi menghambat kemampuan masyarakat untuk mengonsumsi produk-produk lokal, yang dapat berdampak pada UMKM. Selain itu, tren inflasi yang rendah dan potensi deflasi juga menunjukkan adanya masalah dalam keseimbangan antara permintaan dan penawaran.
Melalui analisisnya, Awalil Riky menyoroti bahwa penurunan daya beli masyarakat adalah realitas yang perlu segera diperhatikan oleh pihak berwenang dan pengambil kebijakan. Data dari sektor sandang, barang budaya, dan peralatan komunikasi menunjukkan adanya tren penurunan yang tidak bisa diabaikan. Optimisme yang ditunjukkan oleh Bank Indonesia melalui laporan penjualan eceran perlu ditinjau kembali agar lebih realistis dalam mencerminkan kondisi yang sebenarnya.
Perekonomian Indonesia sedang mengalami masa-masa yang menantang, dan perhatian terhadap daya beli masyarakat adalah langkah pertama yang penting untuk memastikan kebijakan ekonomi yang relevan dan efektif.(c@kra)




