MoneyTalk, Jakarta – Dalam narasi yang diungkapkan oleh seorang konten kreator di kanal YouTube-nya, terdapat kritik tajam terhadap pengembangan transit hub di Jakarta yang sepi aktivitas ekonomi. Menurutnya, keberadaan transit hub seharusnya mampu menggerakkan roda ekonomi di sekitarnya. Transit hub memberikan pengalaman yang menarik bagi masyarakat untuk menggunakan transportasi umum.
Dalam konteks ini, Mall, yang dahulu dianggap sebagai pusat perbelanjaan dan hiburan, kini mulai kehilangan relevansinya. Mari kita telusuri lebih dalam alasan di balik pandangan ini dan potensi yang bisa dimanfaatkan.
Salah satu contoh yang diangkat adalah MRT Blok M, yang dinilai berhasil karena di sekitarnya terdapat berbagai kegiatan ekonomi yang meramaikan suasana. Setiap akhir pekan Blok M dipenuhi oleh masyarakat, menjadikannya lokasi yang hidup. Di sisi lain, MRT Blok A dan Fatmawati terlihat sepi, dengan sedikit aktivitas di sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan transit hub tidak cukup hanya dengan menyediakan moda transportasi, tetapi juga perlu didukung oleh aktivitas ekonomi yang dinamis.
Dalam konteks ini, transit hub harus dipandang sebagai peluang untuk menciptakan ruang publik yang menarik. Aktivitas ekonomi di sekitarnya tidak hanya memberikan pemasukan bagi pemerintah daerah, tetapi juga menciptakan pengalaman yang bisa menarik masyarakat untuk menggunakan transportasi umum. Pengalaman ini dapat beragam, mulai dari tempat makan, hiburan, hingga pasar kreatif yang merangkul komunitas lokal.
Keberadaan ruko kecil di kawasan seperti Blok M memberikan fleksibilitas yang tidak dimiliki oleh mall besar. Jika sebuah ruko tidak lagi relevan, pemiliknya dapat dengan cepat mengganti tenant atau menyesuaikan jenis usaha. Sebaliknya, mall besar seperti Ratu Plaza di Senayan sulit untuk beradaptasi. Meskipun lokasinya strategis, mall ini tetap sepi karena kurangnya daya tarik bagi pengunjung.
Mall sering kali dianggap sebagai entitas statis dan membutuhkan investasi besar untuk direnovasi. Ini menjadi tantangan ketika tren pasar berubah. Dalam hal ini, ruko yang lebih kecil dapat dengan cepat beradaptasi dengan permintaan pasar dan kebutuhan konsumen, menjadikannya lebih relevan dan menarik.
Salah satu faktor yang membuat kawasan seperti Blok M sukses adalah tingkat walkability yang tinggi. Masyarakat lebih cenderung menggunakan transportasi umum jika mereka merasa nyaman untuk berjalan kaki dan menjelajahi area tersebut. Sebaliknya, mall sering kali menyediakan pengalaman yang lebih tertutup dan statis, yang membuat pengunjung enggan untuk berkunjung tanpa tujuan yang jelas.
Studi menunjukkan bahwa daerah yang lebih ramah pejalan kaki cenderung memiliki tingkat ekonomi yang lebih baik. Hal ini karena kemudahan akses membuat orang lebih mungkin untuk mampir dan berbelanja. Dengan meningkatkan walkability di sekitar transit hub, kota dapat mendorong lebih banyak orang untuk menggunakan transportasi umum dan, pada gilirannya, mendukung ekonomi lokal.
Dengan menjadikan transit hub sebagai pusat aktivitas ekonomi, pemerintah daerah dapat menciptakan win-win solution bagi semua pihak. Pedagang lokal akan mendapatkan akses ke pasar yang lebih luas, sementara pemerintah daerah akan memperoleh pajak dari aktivitas ekonomi yang meningkat. Ini tidak hanya menguntungkan para pengusaha, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Sebagai contoh, proyek revitalisasi yang berhasil di kawasan lain, seperti yang dilakukan di Dubai, menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi yang terintegrasi dengan transportasi publik dapat meningkatkan penggunaan moda transportasi tersebut. Dengan menerapkan konsep serupa di Jakarta, potensi besar untuk menghidupkan kembali kawasan yang sepi dapat dimanfaatkan.
Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa mall sebagai pusat perbelanjaan tradisional mulai kehilangan relevansinya. Jakarta perlu lebih fokus pada pengembangan transit hub yang tidak hanya menyediakan aksesibilitas, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi yang hidup di sekitarnya. Dalam upaya ini, kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, dan komunitas lokal sangat penting untuk menciptakan ruang publik yang menarik dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dengan mendorong penggunaan transportasi umum dan menciptakan pengalaman yang menarik di sekitar transit hub, Jakarta dapat bertransformasi menjadi kota yang lebih ramah bagi warganya, sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi lokal. Melalui pendekatan yang lebih fleksibel dan adaptif, diharapkan Jakarta akan semakin hidup dan menarik bagi masyarakat.(c@kra)





