MoneyTalk, Jakarta – Pidato Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin kembali memicu kontroversi. Dalam pelantikan Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII), Cak Imin melontarkan pernyataan yang dinilai menyudutkan organisasi mahasiswa lain, khususnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
“Kalau ada yang tak tumbuh dari bawah, pasti bukan PMII, itu HMI,” ujar Cak Imin dalam pidatonya yang segera menyebar luas dan menimbulkan pro kontra.
Pernyataan tersebut ditanggapi berbeda-beda oleh berbagai pihak. M. Ibrahim S, dalam opini yang ditulisnya, menyebut bahwa pernyataan itu hanyalah bentuk humor khas dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU). “Humor dalam tradisi NU bukan sekadar hiburan. Ia bagian dari struktur sosial. Para kiai pesantren sering menggunakan humor sebagai alat teguran halus, penyejuk konflik, atau sindiran yang elegan,” tulisnya.
Namun, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI), Putri Khairunnisa, menyayangkan pernyataan Cak Imin. Ia menilai pernyataan tersebut mengandung unsur provokatif yang bisa memecah belah antarorganisasi mahasiswa.
“Semua organisasi kemahasiswaan memiliki kontribusi besar terhadap pembangunan bangsa. Tidak semestinya satu organisasi menyepelekan atau merendahkan organisasi lain,” tegas Nissa.
Nada keberatan juga datang dari mantan Ketua Umum PB HMI periode 2013–2015, Arief Rosyid Hasan. Ia menyebut pernyataan Cak Imin sebagai ahistoris, simplistik, dan menyesatkan.
“Sebagai organisasi mahasiswa tertua di Indonesia, HMI berdiri sejak 5 Februari 1947 di tengah perjuangan kemerdekaan bangsa. HMI tumbuh bukan dari elit kekuasaan,” ujar Arief Rosyid menanggapi dengan nada tegas.
Pernyataan Cak Imin ini memperlihatkan kembali ketegangan laten antara organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan latar belakang ideologi dan kultural yang berbeda. Apakah pernyataan itu sekadar gurauan khas NU atau justru provokasi politik, publik kini sedang menilai sendiri maksud sebenarnya dari sosok yang juga digadang-gadang akan kembali maju di kontestasi politik nasional tersebut.




