Hendrajit: NU Sedang Masuk Era VUCA, Ini Solusi untuk Keluar dari Krisis

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat geopolitik Hendrajit menilai Nahdlatul Ulama (NU) tengah berada dalam fase VUCA Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity sebuah kondisi yang biasanya dipakai untuk menggambarkan dunia yang penuh gejolak, tak menentu, rumit, dan serba abu-abu. Menurutnya, tantangan ini tidak boleh dinormalisasi atau dianggap biasa, karena dampaknya menyentuh jantung kepemimpinan dan arah strategis NU.

“Anggap saja NU sekarang ini sedang menghadapi VUCA,” kata Hendrajit kepada wartawan, Senin (24/11/2025).

Ia menjelaskan, Volatility menggambarkan situasi yang penuh gejolak, tak menentu, dan sulit diprediksi. Dalam bahasa sederhananya: kacau. Sementara Uncertainty adalah kondisi ketidakpastian, di mana arah pergerakan sulit ditebak. Complexity menunjukkan bahwa masalah yang dihadapi NU semakin rumit, mbulet, dan berliku-liku. Adapun Ambiguity menggambarkan sikap mendua gamang membedakan antara keseriusan dan main-main, antara strategi dua kaki atau ketidaktegasan posisi.

Hendrajit juga menyinggung bahwa sebagian elite NU, sadar atau tidak, sedang “keenakan tinggal di zona abu-abu,” sehingga tidak mampu memberikan arah yang jelas. Mereka, kata dia, seringkali tak bisa membedakan antara memainkan strategi atau sekadar bermain-main dalam dinamika politik dan kebangsaan.

Namun, Hendrajit menekankan bahwa solusi untuk menghadapi VUCA juga harus dijawab dengan VUCA. “Lho, maksudnya?” ujarnya retoris.

Menurut Hendrajit, Volatility harus dihadapi dengan Vision (Visi). Ia menilai NU saat ini sedang mengalami krisis visi, karena terlalu terpaku pada tradisi—bukan sebagai sumber inovasi, melainkan seperti artefak museum yang dilestarikan tanpa dikembangkan. Padahal, tradisi seharusnya menjadi inspirasi untuk merespons modernitas.

Selanjutnya, Uncertainty harus dijawab dengan Understanding (Pemahaman). Pemahaman yang dimaksud bukan sekadar pengetahuan, melainkan kemampuan mengolah apa yang sudah diketahui menjadi wawasan, serta keberanian mencari “ketidaktahuan baru” yang melahirkan penemuan gagasan.

Sementara itu, Complexity hanya dapat diselesaikan dengan Clarity (Kejelasan) baik dalam pola pikir, pola sikap, maupun pola tindakan. Tetapi, kata Hendrajit, kejernihan ini baru mungkin dicapai apabila NU terlebih dahulu berhasil keluar dari pusaran ketidakpastian.

Terakhir, Ambiguity harus direspons dengan Agility (Kelincahan). Agility yang dimaksud bukan asal cepat, melainkan kelincahan intelektual dan organisatoris dalam melahirkan solusi kreatif, inovatif, dan kritis.

Menurut Hendrajit, apabila NU mampu membawa diri keluar dari jebakan VUCA dengan formula VUCA versi baru ini, NU tidak hanya mampu merestorasi arah gerak organisasinya, tetapi juga akan kembali memainkan peran strategis dalam membimbing bangsa di tengah turbulensi geopolitik dan sosial.

“NU adalah kekuatan peradaban. Tapi kekuatan itu harus dipelihara, ditata ulang, dan diarahkan,” tegasnya.

Dengan demikian, menurut Hendrajit, masa depan NU ditentukan oleh kemampuannya membaca realitas, membangun visi, dan bertindak dengan jernih dalam situasi penuh kerumitan. Tanpa itu, NU akan semakin terombang-ambing dalam pusaran VUCA yang semakin intens.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *