MoneyTalk, Jakarta – Muktamar Luar Biasa (MLB) Nahdlatul Ulama (NU) saat ini tengah menjadi pusat kontroversi, menyusul ketegangan internal yang meningkat di tubuh organisasi. Panitia MLB NU tetap berkomitmen untuk melaksanakan acara di Cirebon, Jawa Barat, meskipun menghadapi penolakan tegas dari berbagai pihak, termasuk Pengurus Cabang NU (PCNU), GP Ansor, Banser, dan Pagar Nusa se-Cirebon Raya.
Tain Komari, atau lebih dikenal dengan sebutan Cak Tain, Ketua Komunitas Diskusi Anti 86 (Kodat86), mengungkapkan bahwa ketegangan ini berakar pada tersumbatnya komunikasi antara dua kelompok utama dalam NU: Nahdliyi Struktural dan Nahdliyi Cultural. “Ada kebuntuan komunikasi yang lama tidak diperbaiki. Ditambah lagi, respon struktural terhadap isu-isu viral Nahdliyin tidak mendapatkan ruang untuk diselesaikan sesegera mungkin,” kata Cak Tain dalam wawancara dengan MoneyTalk pada Senin (16/09). Menurutnya, masalah ini memperburuk situasi dan memperbesar peluang munculnya Muktamar Luar Biasa sebagai salah satu jalan untuk menyelesaikan ketidakpuasan.
Ketua Organizing Committee (OC) MLB NU, KH Imam Baihaqi, menegaskan bahwa persiapan untuk MLB sudah dilakukan dengan sangat matang. Dari pemesanan hotel hingga perencanaan teknis, semua aspek telah dipertimbangkan dengan cermat. KH Imam Baihaqi mengungkapkan bahwa semangat di balik MLB muncul dari keprihatinan atas kondisi internal PBNU yang dianggap tidak sesuai dengan harapan para kiai dan anggota NU. “Kami telah membentuk Steering Committee (SC) yang dipimpin oleh KH Imam Jazuli dan OC yang saya pimpin, berdasarkan penunjukan para kiai dalam konsolidasi nasional Presidium MLB NU di Cirebon,” ujarnya pada Minggu (15/9/2024). Ia menambahkan bahwa persiapan hampir selesai dan panitia siap menghadapi berbagai tantangan.
Di sisi lain, GP Ansor dan Banser menolak keras pelaksanaan MLB ini. GP Ansor wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan mengancam akan membubarkan paksa MLB jika tetap dilaksanakan. Penolakan ini dianggap sebagai bentuk komitmen untuk menjaga marwah para kiai NU, yang lebih menekankan pada tabayyun ketimbang penggulingan paksa kepengurusan PBNU. Ketua GP Ansor Kabupaten Cirebon, Ibnu Ubaidillah, menegaskan, “Kami siap menghadapi segala risiko demi menolak MLB yang dianggap mengganggu stabilitas NU.
Masalah utama yang mendasari ketegangan ini adalah tersumbatnya komunikasi dan penyebaran informasi yang tidak akurat. Banyak pihak merasa bahwa MLB diinisiasi tanpa koordinasi yang cukup dengan organ-organ NU yang lebih besar. Informasi yang tidak jelas dan kesalahpahaman mengenai tujuan dan legitimasi MLB telah memicu ketegangan di kalangan anggota dan pengurus NU. Penolakan dari GP Ansor dan Banser mencerminkan kekhawatiran akan dampak negatif dari MLB terhadap stabilitas dan harmoni dalam organisasi.
Banser juga mengancam akan membubarkan acara jika dilaksanakan. Mereka menilai MLB ini tidak relevan dan berpotensi merusak keharmonisan dalam tubuh NU, meskipun ada klaim bahwa acara ini merupakan bagian dari NU. Mereka berkomitmen untuk menjaga kondusifitas dan stabilitas NU tanpa tekanan dari pihak manapun.
Kontroversi mengenai Muktamar Luar Biasa NU mencerminkan ketegangan internal yang mendalam dalam organisasi. Ketidakjelasan komunikasi dan penyebaran informasi yang keliru menjadi salah satu faktor utama yang memperburuk situasi. Sementara panitia MLB tetap bertekad untuk melaksanakan acara, protes dari berbagai pihak menunjukkan tantangan besar dalam menjaga keseimbangan dan stabilitas organisasi. Perlu adanya dialog yang konstruktif dan penyelesaian yang bijaksana untuk mengatasi ketegangan ini dan memastikan masa depan yang harmonis bagi NU.(c@kra)





