MoneyTalk, Jakarta – Sebuah unggahan menarik muncul di platform X dari Rachland Nashidik pada (25/09), menampilkan transkrip pidato reflektif dari Dino Patijalal, mantan diplomat dan tokoh publik. Dalam unggahan tersebut, Dino berbagi imajinasinya mengenai apa yang mungkin disampaikan oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden RI keenam, kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi), menjelang akhir masa jabatannya pada 20 Oktober 2024. Refleksi ini berisi pandangan tentang transisi kekuasaan yang diwarnai dengan sejumlah nasihat bijak.
Dino membuka refleksinya dengan mengingat momen penting pada 20 Oktober 2014, ketika ia berdiri di samping SBY saat Jokowi pertama kali memasuki Istana Kepresidenan sebagai pemimpin baru Indonesia. Sekarang, Dino mengantisipasi momen serupa yang akan terjadi pada 20 Oktober mendatang, di mana Jokowi akan meninggalkan istana setelah dua periode menjabat, dan Presiden terpilih Prabowo Subianto akan mengambil alih.
Dino kemudian membayangkan percakapan antara Jokowi dan SBY mengenai lima “tip tipis” yang perlu diingat oleh Jokowi dalam menghadapi akhir masa jabatannya. Lima poin ini tidak hanya relevan bagi Jokowi, tetapi juga menjadi nasihat bagi semua pemimpin yang berada di akhir masa jabatan mereka.
Yang dibayangkan Dino dari SBY adalah menerima kenyataan bahwa era kepemimpinan telah berakhir. Menerima ini dengan ikhlas dan rasa syukur menjadi kunci, karena perjalanan sebagai pemimpin sudah ditempuh dengan segenap upaya terbaik. Sejarah, bukan survei sesaat, yang akan menjadi hakim akhir bagi legasi seorang presiden. Dengan demikian, penting bagi seorang pemimpin untuk meninggalkan panggung politik dengan lapang dada.
Dino mengingatkan agar seorang presiden tidak mengambil keputusan strategis, terutama yang berkaitan dengan personel atau kebijakan besar, di masa-masa akhir jabatannya. Sebagai contoh, ketika SBY menjadi presiden pada 2004, ia tidak melanjutkan keputusan pengangkatan Panglima TNI yang dibuat oleh presiden sebelumnya hanya beberapa bulan sebelum masa jabatannya berakhir. Hal ini menunjukkan penghormatan kepada mandat baru presiden terpilih, yang tentunya akan membawa kebijakan dan agenda sendiri.
Salah satu poin penting dalam refleksi Dino adalah bahwa seorang mantan presiden tidak boleh memposisikan dirinya sebagai patron bagi presiden pengganti. Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa tidak ada presiden yang mempengaruhi penerusnya, mulai dari Soekarno hingga SBY. Bahkan Habibie, yang merupakan orang dekat Soeharto, tidak dipatroni oleh presiden sebelumnya. Dino percaya bahwa Jokowi juga tidak ingin berada di bawah bayang-bayang presiden sebelumnya, sehingga presiden pengganti pun harus dibiarkan memimpin dengan penuh kebebasan.
Dino menekankan pentingnya mengakhiri kepemimpinan dengan cara yang terhormat, sebagaimana presiden masuk ke Istana dengan martabat. Kesuksesan seorang presiden diukur dari kemampuannya mewariskan Indonesia dalam kondisi yang lebih baik. Meski tidak semua presiden dalam sejarah Indonesia berhasil mencapai ini, menjaga kehormatan dan memastikan transisi kekuasaan yang damai tetap menjadi ukuran keberhasilan seorang pemimpin.
Nasihat terakhir Dino adalah bahwa kekuasaan tidak boleh mengaburkan fakta bahwa Indonesia lebih besar daripada siapapun yang memimpinnya. Sejarah telah memberikan pelajaran keras kepada pemimpin yang melupakan hal ini. Soekarno, Soeharto, hingga Abdurrahman Wahid semuanya ditegur oleh sejarah ketika mereka terlalu terfokus pada kekuasaan pribadi mereka. Seorang presiden harus selalu menyadari bahwa masa jabatan mereka hanyalah bagian dari perjalanan panjang bangsa.
Dino mengakhiri pidatonya dengan mengajak semua pihak untuk memikirkan transisi kekuasaan secara damai dan harmonis. Meskipun pidato ini bersifat imajinatif, pesan-pesan yang disampaikan sangat relevan bagi kondisi politik saat ini. Dino mengingatkan bahwa seorang pemimpin harus mampu meninggalkan kekuasaan dengan kepala tegak dan mewariskan negara dalam keadaan stabil.
Sebagaimana diungkapkannya, “Kita harus masuk dengan terhormat, dan keluar dengan terhormat.” Pesan ini tidak hanya berlaku bagi Presiden Jokowi, tetapi juga bagi semua pemimpin yang pada akhirnya akan meninggalkan panggung kekuasaan. Dino menutup dengan salam transisi, demokrasi, dan reformasi, menekankan pentingnya kesinambungan dan kedewasaan politik di Indonesia.
Dalam masa transisi yang mendekat, pesan ini menjadi pengingat penting bagi bangsa bahwa, pada akhirnya, Indonesia jauh lebih besar daripada siapapun yang memimpinnya.(c@kra)





