Apa yang Salah dengan Ekonomi Indonesia?

  • Bagikan
Apa yang Salah dengan Ekonomi Indonesia?
Apa yang Salah dengan Ekonomi Indonesia?

MoneyTalk, Jakarta – Di kanal YouTube The Overpost pada Jumat (27/09), CEO dan founder Leonardo Hartono Lu mengangkat diskusi menarik tentang kondisi ekonomi Indonesia yang kian menantang, terutama terkait sulitnya mencari pekerjaan. Meski ekonomi Indonesia tumbuh di atas 5%, banyak orang merasa tidak mendapatkan manfaat dari pertumbuhan tersebut. Salah satu fakta yang mengejutkan adalah meningkatnya PHK di Jakarta, yaitu hingga seribu persen dan hampir 10 juta Gen Z menganggur. Kenapa bisa seperti ini?

Menurut Leonardo, masalah utama terletak pada menurunnya kelas menengah. Banyak dari mereka yang turun kelas menjadi rentan miskin. Ini tentu berakibat pada menurunnya daya beli masyarakat. Indonesia dihadapkan pada ancaman besar: Apakah di tahun 2045, Indonesia akan menjadi negara emas atau justru “Indonesia cemas”? Leonardo berusaha menggali akar masalahnya dan menawarkan solusi agar generasi muda bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.

Salah satu poin penting yang diangkat adalah ketimpangan supply dan demand dalam pasar kerja. Di tahun 2023, hanya ada 220 ribu lowongan kerja untuk 1,8 juta pencari kerja. Dengan kata lain, setiap lowongan diperebutkan oleh delapan orang. Hal ini kontras dengan situasi di tahun 2019, di mana setiap lowongan hanya diperebutkan oleh dua pencari kerja. Fakta ini menunjukkan bahwa semakin sulit bagi masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan, terutama di sektor formal.

Leonardo juga menyoroti fenomena ekonomi yang dikenal sebagai premature deindustrialization. Indonesia terjebak di fase ini, yang seharusnya terjadi di negara-negara maju setelah mereka mengalami pertumbuhan manufaktur dan teknologi. Namun, di Indonesia industri manufaktur justru menurun sebelum mencapai titik optimal. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan manufaktur lokal bersaing dengan produk asing yang lebih murah dan lebih efisien.

Sebagai contoh, produk dari China bisa dijual di Indonesia dengan harga 50% lebih murah meskipun harus menempuh ribuan kilometer melalui laut. Akibatnya, banyak pabrik lokal yang tutup, dan lapangan pekerjaan di sektor formal semakin berkurang. Ini memaksa banyak pekerja beralih ke sektor informal, yang berpenghasilan rendah dan tidak stabil.

Untuk mengatasi masalah ini, Leonardo menekankan perlunya peran pemerintah dalam memfasilitasi kemudahan berbisnis, memperbaiki kepastian hukum, serta memastikan kepemimpinan yang kompeten dan berintegritas. Di sisi lain, masyarakat juga harus terus mengembangkan keterampilan, terutama di era yang semakin dipenuhi oleh otomatisasi dan kecerdasan buatan.

Dengan demikian, untuk mencapai Indonesia emas di tahun 2045, diperlukan kerja sama antara pemerintah yang fokus pada pembangunan infrastruktur, reformasi perizinan, dan penegakan hukum yang lebih baik, serta masyarakat yang terus meningkatkan keterampilannya agar tetap relevan di pasar kerja yang kompetitif.(c@kra)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *