MoneyTalk, Jakarta, – Laporan terbaru dari Center of Economic and Law Studies (Celios) dikutip (26\9) mengungkapkan ketimpangan ekonomi yang semakin mencolok di Indonesia, meskipun negara ini mencatat pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Penelitian ini dilakukan oleh tim penulis yang dipimpin oleh Wahyudi Askar dan menyajikan data terkini mengenai kesenjangan pendapatan serta distribusi kekayaan yang berpotensi mengancam kestabilan sosial.
Temuan Utama Celios antara lain Kekayaan Triliuner, total akumulasi kekayaan dari 50 orang terkaya di Indonesia mencapai Rp81,6 triliun, yang setara dengan 2 persen dari total kekayaan nasional. Selama periode 2020 hingga 2023, kekayaan tiga triliuner teratas meningkat sebesar 174%. Analisis menunjukkan bahwa jika salah satu dari triliuner ini mengeluarkan Rp2 miliar per hari, mereka akan membutuhkan 630 tahun untuk menghabiskan seluruh kekayaan mereka.
Kekayaan Pejabat Publik, para menteri dalam Kabinet Joko Widodo juga tidak lepas dari sorotan. Akumulasi kekayaan mereka mencapai Rp24,52 triliun, dengan 50% dari total kekayaan tersebut berasal dari menteri yang terlibat dalam industri tambang. Hal ini mengindikasikan adanya hubungan erat antara kekuasaan politik dan kekayaan yang dimiliki, yang semakin memperkuat ketimpangan.
Potensi Pajak, dengan menerapkan pajak kekayaan sebesar 2% dari total kekayaan menteri, pemerintah berpotensi mengumpulkan Rp490,35 miliar per tahun. Jumlah ini cukup untuk membangun 339.836 rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan memberikan makanan bergizi gratis kepada 32 juta anak di seluruh Indonesia. Ini menunjukkan potensi besar yang terabaikan dalam pengelolaan pajak.
Dampak Sosial
Sementara segelintir individu menguasai kekayaan yang luar biasa, lapisan masyarakat paling bawah terus berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Data menunjukkan bahwa 74,3% guru honorer berpenghasilan di bawah Rp2 juta per bulan, dan 46,9% di antaranya bahkan berpenghasilan di bawah Rp1 juta. Pengemudi ojek daring juga menghadapi situasi serupa, di mana 50,1% responden hanya mendapatkan penghasilan harian antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, yang sering kali setara dengan biaya operasional harian mereka.
Kondisi ini menciptakan pola ketidakadilan yang semakin dalam, di mana kelompok masyarakat berpendapatan rendah terjebak dalam siklus kemiskinan dan tidak memiliki akses yang memadai terhadap layanan dasar, seperti pendidikan dan kesehatan.
Peran Korporasi dan Oligarki
Laporan Celios menyoroti bahwa ketimpangan ekonomi tidak hanya diakibatkan oleh faktor individu, tetapi juga oleh struktur korporasi dan oligarki yang kuat. Perusahaan besar, seperti Wilmar dan Sinar Mas, terlibat dalam berbagai kontroversi, termasuk penghindaran pajak dan praktik tidak etis lainnya. Dominasi mereka di pasar memungkinkan mereka untuk meraih keuntungan tinggi, bahkan di tengah krisis ekonomi, sementara masyarakat kelas bawah terpaksa membayar pajak yang lebih tinggi dan menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.
Rekomendasi Kebijakan
Celios mengajak para pembuat kebijakan untuk lebih berpihak kepada kelompok yang paling terpinggirkan dan mengusulkan langkah-langkah konkret untuk mengatasi ketimpangan. Ini termasuk peningkatan pajak bagi individu dan perusahaan yang mampu, serta reformasi di sektor ekstraktif untuk memastikan bahwa manfaat dari sumber daya alam dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.
Studi ini juga menyerukan pentingnya menciptakan kebijakan perlindungan sosial yang lebih baik dan mendesak pemerintah untuk mengatasi praktik-praktik korporasi yang merugikan masyarakat. Hasil penelitian ini diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi akademis, tetapi juga mendorong tindakan nyata yang dapat mengurangi ketimpangan ekonomi.
Dalam konteks pertumbuhan ekonomi yang terus berlanjut, tantangan ketimpangan di Indonesia menjadi semakin mendesak. Laporan ini mengingatkan kita semua bahwa keadilan sosial dan ekonomi harus menjadi prioritas utama bagi pemerintah dan semua pihak terkait. Masyarakat menunggu perubahan kebijakan yang dapat menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya untuk segelintir orang kaya. Jika tidak, ketimpangan ini dapat mengancam stabilitas sosial dan masa depan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.(c@kra)





