MoneyTalk, Jakarta – Pada Selasa (01/10/2024), Mardigu Wowiek melalui saluran YouTube “Bossman Mardigu” mengangkat isu serius terkait serangan bom pager di Lebanon yang diduga dilakukan oleh Israel. Serangan ini, yang menggunakan ribuan perangkat komunikasi elektronik seperti pager dan walky-talky sebagai alat ledakan, menewaskan hampir 50 orang dan melukai sekitar 3.200 orang, termasuk anak-anak dan warga sipil. Menurut laporan, operasi tersebut dilakukan oleh Mossad, badan intelijen Israel, dengan tujuan menyerang kelompok Hizbullah. Namun, dampaknya justru merugikan ribuan warga sipil di Lebanon.
Mardigu Wowiek menyampaikan kekesalannya terhadap diamnya komunitas internasional atas peristiwa ini. Ia mempertanyakan mengapa dunia, termasuk Indonesia, tidak bersuara menghadapi kekejaman tersebut.
“Kenapa Indonesia diam? Apalagi pejabatnya malah sibuk menghindari tanggung jawab. Kita semua diam melihat kekejaman Israel ini,” tegasnya.
Bagi Mardigu, serangan ini bukan hanya soal Lebanon atau Israel, tetapi tentang dimensi baru dalam perang kontemporer yang semakin brutal dan mengerikan.
Serangan bom pager ini merupakan salah satu taktik baru yang memanfaatkan perangkat sehari-hari untuk menargetkan orang-orang tak bersalah di ruang publik. Hal ini dinilai sebagai bentuk eskalasi baru dalam peperangan yang tidak mengenal batas, bahkan merusak perangkat komunikasi yang biasa digunakan oleh masyarakat umum. Menurut Mardigu, serangan semacam ini menciptakan mimpi buruk yang dapat terjadi kapan saja di manapun di dunia, menjadikannya sebagai ancaman global.
Menurut sejumlah pakar dan sumber keamanan yang dikutip oleh berbagai media, serangan ini telah direncanakan selama 15 tahun oleh Mossad. Mereka memasarkan pager dan walky-talky yang dilengkapi bahan peledak jarak jauh dengan mencatut merek-merek dari berbagai negara, termasuk Taiwan, Hongaria, Bulgaria, dan Jepang. Namun, negara-negara tersebut telah membantah keterlibatan mereka dalam serangan tersebut.
Perangkat komunikasi ini diledakkan serentak di seluruh Lebanon, menargetkan tidak hanya anggota Hizbullah, tetapi juga ribuan warga sipil. Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, gelombang ledakan kedua yang terjadi pada Rabu menambah jumlah korban tewas hingga 25 orang, sementara lebih dari 600 orang terluka. Beberapa ledakan bahkan terjadi di pemakaman, menambah kesedihan bagi mereka yang kehilangan orang-orang tercinta dalam gelombang ledakan pertama.
Serangan bom pager ini diklaim oleh beberapa analis sebagai cara Israel untuk menekan warga sipil agar melawan Hizbullah. Israel, dalam konteks ini, memfokuskan upaya militernya untuk memerangi kelompok tersebut, yang dianggap sebagai ancaman utama, selain kelompok Hamas di Gaza.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Komandan Korps Pengawal Revolusi Iran, Hossein Salami, memperingatkan bahwa Israel akan menghadapi eskalasi perang dalam waktu dekat. Salami bahkan menyatakan bahwa rezim Israel akan runtuh akibat tindakannya yang semakin brutal dan tidak manusiawi. Intelijen Israel sendiri mengakui kekhawatiran atas kemampuan Hizbullah dalam menembus pertahanan udara Israel jika terjadi konflik berskala besar.
Menurut laporan, serangan bom pager ini merupakan serangan terbesar Israel ke Lebanon sejak tahun 2006. Dengan menargetkan warga sipil melalui perangkat komunikasi sehari-hari, Israel telah melanggar batas-batas hukum internasional dan aturan keterlibatan militer.
“Israel telah melanggar semua garis merah dengan menjadikan pager dan perangkat lainnya sebagai senjata pembunuh massal,” ujar Mardigu dalam narasinya.
Serangan bom pager di Lebanon membuka mata dunia akan potensi baru dalam teknologi sebagai alat perang. Jika sebelumnya perangkat seperti laptop, handphone, dan gadget lainnya dianggap aman, serangan ini menunjukkan bahwa alat-alat tersebut dapat dimanfaatkan sebagai senjata mematikan.
“Bom bergerak ini tanpa pandang bulu melukai dan membunuh orang-orang di ruang publik. Ini adalah ancaman yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya,” tegas Mardigu.
Dalam dunia yang semakin bergantung pada teknologi, kemungkinan bahwa perangkat sehari-hari bisa diubah menjadi bom waktu bukan lagi skenario fiksi. Mardigu menegaskan bahwa diamnya dunia internasional hanya akan memperparah situasi ini.
“Kita tidak bisa diam saja. Dunia harus mengecam keras taktik seperti ini yang menciptakan ancaman bagi seluruh umat manusia,” tutupnya.
Serangan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang bagaimana masyarakat internasional merespons ancaman baru dalam bentuk perang teknologi. Organisasi internasional dan negara-negara di dunia perlu lebih tegas dalam mengecam penggunaan perangkat elektronik untuk kejahatan perang dan melakukan investigasi yang mendalam terhadap insiden ini. Selain itu, perlindungan terhadap warga sipil harus menjadi prioritas utama dalam setiap konflik, agar teknologi yang digunakan untuk komunikasi tidak disalahgunakan sebagai alat pembunuh.
Serangan bom pager di Lebanon adalah peringatan bahwa peperangan kontemporer telah memasuki dimensi yang lebih berbahaya. Kebungkaman dunia internasional bukanlah solusi, melainkan bagian dari masalah yang harus diatasi agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.(c@kra)





