MoneyTalk, Jakarta – Sastrawan politik Ahmad Khozinudin melontarkan pernyataan keras terkait konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Dalam sebuah tulisan yang beredar luas di media sosial, Ahmad Khozinudin menilai bahwa Iran memiliki “legitimasi syar’i” untuk melakukan serangan balasan terhadap kepentingan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Ia mengaitkan hal tersebut dengan serangan yang disebut terjadi pada 28 Februari 2026 terhadap berbagai target di Iran.
Menurutnya, serangan tersebut tidak hanya menyasar fasilitas militer, tetapi juga infrastruktur sipil seperti industri, perbankan, hingga fasilitas publik. Atas dasar itu, ia berpendapat bahwa Iran memiliki dasar pembenaran untuk merespons, termasuk terhadap target yang lebih luas di kawasan.
Lebih jauh, Ahmad Khozinudin juga menyoroti keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Irak, Kuwait, dan Lebanon. Ia menilai negara-negara tersebut tidak memiliki alasan untuk membela diri jika menjadi sasaran serangan, karena dianggap telah memberikan ruang bagi kehadiran militer asing.
Dalam bagian lain pernyataannya, ia mengaitkan konflik Israel-Palestina dengan serangan yang dilakukan Iran. Ia menyebut bahwa tindakan militer Israel terhadap Palestina dijadikan dasar pembenaran untuk serangan balasan yang lebih luas.
Pernyataan tersebut menuai perhatian karena mengandung pandangan yang sangat keras dan berpotensi memicu kontroversi, terutama terkait seruan tindakan yang menyasar wilayah sipil.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Indonesia terkait pernyataan tersebut. Namun, berbagai pihak sebelumnya telah mengingatkan pentingnya menjaga narasi damai dan menghindari provokasi di tengah situasi konflik global yang sensitif.





