Garut: Sejarah Pembelajaran Hidup dan Irisan Keberpihakan

  • Bagikan
Garut: Sejarah Pembelajaran Hidup dan Irisan Keberpihakan
Garut: Sejarah Pembelajaran Hidup dan Irisan Keberpihakan

MoneyTalk, Jakarta – Pembelajaran kedewasaan berpikir seseorang tidak bisa dilepas dari akar historisnya. Refleksi atas sejarah pembelajaran hidup akan menghantarkan kepada pemahaman: bagaimana kita menjadi, siapa kita dan apa yang kita percayai hari ini.

Istilah Jasmerah yang diucapkan Soekarno, berarti jangan sekali-kali meninggalkan sejarah’. Meski sejarah merupakan produk masa lalu, tapi eksistensinya telah membentuk kita saat ini. Kita bisa menggunakan sejarah sebagai bagian pengalaman dan pelajaran dalam hidup. Sehingga langkah tindak historis dan keberpihakan tetap dalam mata rantai sejarah yang telah ikut membentuk kedirian kita saat ini.

Sadar atau tidak dampaknya, masyarakat Garut pernah terdidik dan merasakan pemikiran dan hasil perjuangan seorang ulama dan tokoh nasional yang konsen dalam bidang agama dan pendidikan, yakni Prof. KH. Anwar Musaddad.

Prof. KH. Anwar Musaddad pada masa revolusi kemerdekaan (1945-1949), bersama KH Yusuf Taujiri dan KH Mustofa Kamil, telah memimpin pasukan melawan agresi Belanda yang ingin kembali menjajah RI. Sempat ditangkap Belanda (1948) dan mendekam di penjara, baru dibebaskan setelah pengakuan kedaulatan (1950).

Pada tahun 1953, Prof. KH. Anwar Musaddad mendapat tugas dari Menteri Agama KH. Fakih Usman untuk mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) di Yogyakarta, yang menjadi cikal-bakal Institut Agama Islam Negeri (IAIN), yang kini berkembang menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Pada tahun 1967, beliau ditugaskan merintis IAIN Sunan Gunung Djati Bandung dan kemudian menjadi rektor pertamanya hingga tahun 1974.

Bersamaan dengan itu, Prof. KH. Anwar Musaddad juga mendirikan Sekolah Persiapan IAIN (SP IAIN) di Garut, Cipasung, Tasikmalaya (Institut Agama Islam Cipasung), Cilendek Bogor, Ciparay, Bandung, dan Majalengka. Tujuannya pemerataan bagi masyarakat luas dalam mengenyam pendidikan dengan misi mengulamakan intelektual dan mengintelektualkan ulama.

Karir di organisasi keagamaan, Prof. KH Anwar Musaddad pernah menjabat sebagai Wakil Rais Am Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan ketua K.H. Bisri Syansuri. Hingga akhir hayatnya dalam posisi sebagai Dewan Penasihat (Musytasar) PBNU.

Sekelumit sejarah ini bagi masyarakat Garut tentu harus menjadi sebuah pelajaran penting untuk menata kehidupan masa kini. Dari perjuangan sosok KH. Anwar Musaddad, ada kiprah besar terbukanya kemerdekaan yang dirasakan bukan hanya oleh masyarakat Garut, tetapi juga oleh masyarakat Indonesia.

Konon, sejarah adalah visi dari ciptaan Tuhan yang terus bergerak, kata Arnold J. Toynbee dalam “A Study of History”. Hari ini visi kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh Prof. KH. Anwar Musaddad tentang peningkatan sekolah agama dan pemerataan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat dilanjutkan oleh anggota keluarganya.

Semisal oleh Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T. (Sekjen Kemenag RI). Seperti yang telah dilansir beberapa media online nasional dalam taglinenya, beliau mengatakan bahwa negara wajib hadir dan berpihak pada madrasah.

Anggota keluarga lainnya yang dikenal sebagai ilmuwan dan teknokrat yakni Dr.Ir. Abdusy Syakur Amin, M.Eng.IPU juga sama, selalu konsen dalam pengembangan dunia pendidikan. Seperti juga telah dilansir dalam beberapa media online, beliau selalu menggelorakan perlunya keberpihakan kepada masyarakat untuk pemerataan akses pendidikan mereka. Sehingga SDM masyarakat garut semakin cerdas, hebat, unggul, dan bertakwa.

Dalam konteks politik dibutuhkan keberpihakan kepada seseorang yang terkait dengan mata rantai perjalanan sejarah tempat kelahiran dan tumbuh kembang kehidupan.

Kata Henry James dalam “The Turn of The Screw”, seseorang dalam perkembangannya butuh membuka sejarah tempat kelahirannya. Sebab sejarah tempat kelahirannya merupakan salah satu literasi penting dalam memilih dan berpihak kepada perkembangan asal daerahnya. Tanpa memahami sejarah itu, seseorang akan terdistorsi dari nilai-nilai kearifan daerahnya sendiri.

Ada irisan masa lalu dan masa kini, termasuk apa yang pernah diperjuangkan oleh Prof. KH. Anwar Musaddad di masa lalu yang diteruskan oleh anggota keluarganya. Sepakat dengan Elizabeth Cady Stanton dalam “Declaration of Sentiments and Resolutions” menyatakan bahwa sejarah masa lalu merupakan perjuangan panjang menuju kesetaraan sosial.

Dan, ini akan terulang dan diingat terus oleh mereka-mereka yang sadar dan memiliki irisan, baik genetik maupun pemikiran untuk menghidupkan kembali perjuangan kesetaraan sosial dalam segala bidang kehidupan.

Serpihan sejarah ini berkaitan dengan perkembangan Kabupaten Garut. Paling tidak serpihan sejarah ini dapat menjadi salah satu rujukan keberpihakan seseorang dalam konteks kepemimpinan daerahnya sendiri.

Sepakat Rota Safetys dalam novel “The Fountains of Silence”, catatan ini hanya tanggung jawab moral kepada sejarah daerah kelahiran tempat tumbuh kembang kehidupan.

Prof. KH. Anwar Musaddad, ulama dan tokoh nasional yang telah memberi pengaruh besar pada sejarah perkembangan Kabupaten Garut. Kini sejarah itu dilanjutkan oleh anggota keluarganya. Salah satunya oleh Dr. Ir. Abdusy SYAKUR Amin, M.Eng. IPU#

#Manusia Hening #Alumni Permata Intan Garut

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *