Tragedi Jokowi dan Pertobatan Prabowo, Refleksi Politik Indonesia

  • Bagikan
Tragedi Jokowi dan Pertobatan Prabowo, Refleksi Politik Indonesia
Tragedi Jokowi dan Pertobatan Prabowo, Refleksi Politik Indonesia

MoneyTalk, Jakarta – Dalam percaturan politik Indonesia, dua tokoh sentral yang terus mendominasi perbincangan publik adalah Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Pada hari Rabu (22/10), Lukas Luwarso dalam pernyataan tertulisnya menggambarkan dinamika politik ini sebagai analogi dari dua kisah klasik: The Devil’s Advocate dan The Divine Comedy.

Dalam tulisan ini, Jokowi diidentifikasikan sebagai tokoh antagonis dalam The Devil’s Advocate, sementara Prabowo merepresentasikan protagonis dalam The Divine Comedy karya Dante Alighieri. Keduanya menjadi cerminan bagi perjalanan politik yang penuh dengan intrik, tragedi, dan potensi pertobatan.

Jokowi dalam pandangan Lukas Luwarso diibaratkan sebagai tokoh yang terperangkap dalam godaan kekuasaan, serupa dengan karakter dalam film The Devil’s Advocate (1997), di mana Al Pacino dan Keanu Reeves menggambarkan kompleksitas moral manusia yang lemah dalam menghadapi kekuasaan. “Vanity is his favourite sin,” ungkapan ini sangat cocok untuk menggambarkan perjalanan Jokowi, yang terjebak dalam ambisi pribadi dan godaan politik praktis.

Selama menjabat sebagai presiden, Jokowi dianggap telah melangkah ke dalam sisi gelap politik, di mana kekuasaan digunakan bukan untuk kepentingan rakyat, melainkan untuk memperkuat dinasti politik dan kroni-kroninya. Lukas Luwarso menyoroti bagaimana Jokowi secara sistematis berupaya memanipulasi lembaga negara, dari partai politik, Mahkamah Konstitusi (MK), hingga aparat keamanan untuk memastikan transisi kekuasaan tetap berada di dalam kendali keluarganya, termasuk upaya mengangkat putranya, Gibran Rakabuming, ke kursi Wakil Presiden.

Politik kekuasaan yang dimainkan Jokowi tak ayal mencerminkan pepatah lama “power tends to corrupt.” Ketagihan akan kekuasaan tidak hanya menghancurkan moralitas pribadi, tetapi juga membawa bencana politik bagi bangsa. Tragedi politik ini, sebagaimana diibaratkan dalam The Devil’s Advocate, mengingatkan bahwa ambisi yang tak terkendali selalu membawa kehancuran.

Sementara itu, Prabowo Subianto adalah protagonis dalam narasi politik ini. Dalam analogi The Divine Comedy karya Dante, perjalanan politik Prabowo diibaratkan sebagai perjalanan dari “neraka” menuju “paradiso.” Setelah mengalami berbagai kekalahan politik, dipecat dari militer, dan diasingkan akibat tragedi politik 1998, Prabowo harus melalui fase “pertobatan” yang digambarkan sebagai perjalanan dari Inferno (neraka) menuju Purgatorio (penyucian) sebelum mencapai Paradiso (surga).

Lukas Luwarso menggarisbawahi bagaimana Megawati Soekarnoputri menjadi sosok yang mengulurkan tangan kepada Prabowo di saat-saat gelapnya. Dalam perspektif ini, Megawati adalah “deus ex machina” yang menyelamatkan Prabowo dari pengasingan dan membawanya kembali ke panggung politik. Namun, ujian terbesar Prabowo adalah sekarang, ketika ia telah diberi kesempatan untuk memimpin negeri ini.

Prabowo berada pada persimpangan jalan: apakah ia akan menempuh jalan kebenaran dan memimpin dengan integritas, atau akan terjerumus ke dalam godaan kekuasaan yang sama seperti Jokowi? Pertobatan politik Prabowo belum sepenuhnya terwujud.

Lukas mencatat tanda-tanda awal dari penyusunan kabinet memperlihatkan Prabowo masih memilih bersekutu dengan figur-figur yang dinilai tidak memiliki komitmen etika dan integritas yang tinggi. Jika Prabowo gagal memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan pertobatan politik, maka ia, seperti Jokowi, mungkin akan terseret kembali ke dalam tragedi politik.

Pada akhirnya, dinamika politik antara Jokowi dan Prabowo dapat berakhir sebagai tragedi atau komedi. Prabowo, yang diibaratkan tengah menapaki jalan pertobatan, memegang kunci masa depan politik Indonesia. Apakah ia akan mampu memisahkan diri dari praktik-praktik politik pragmatis yang selama ini menguasai negeri, atau justru akan tetap terjebak dalam siklus yang sama?

Dalam narasi The Divine Comedy, fase terakhir adalah Paradiso, di mana tokoh utama akhirnya mencapai pencerahan dan keselamatan. Bagi Prabowo, pencerahan politiknya hanya akan tercapai jika ia mampu melepaskan diri dari politik transaksional dan benar-benar melayani kepentingan rakyat, bukan kroni atau dinastinya sendiri.

Jika ia gagal dalam ujian pertobatan ini dan terus menerapkan politik kekuasaan yang manipulatif, maka Indonesia akan kembali terperosok dalam siklus tragedi politik yang tidak ada habisnya. Politik “jogetin aja” dan “etik ndasmu” yang masih terlihat dalam dinamika politik hari ini adalah indikasi bahwa pertobatan belum benar-benar terjadi. Akankah Prabowo dan Indonesia mencapai Paradiso, atau justru terjerumus kembali ke dalam Inferno?

Waktu yang akan menjawabnya. Namun, jelas bahwa masyarakat Indonesia mengharapkan lebih dari sekadar peralihan kekuasaan—mereka menginginkan perubahan sejati yang dapat membawa negeri ini ke arah yang lebih baik.(c@kra)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *