Andi Arief: Bendera One Piece Bukan Subversif, Tapi Simbol Perlawanan dan Harapan

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Di tengah hiruk pikuk perayaan kemerdekaan dan dinamika politik nasional, pernyataan politikus Partai Demokrat Andi Arief soal bendera One Piece memicu perbincangan menarik. Bukan soal anime atau sekadar budaya pop, tapi bagaimana simbol fiksi bisa menjadi medium ekspresi politik dan sosial. “Bendera One Piece itu bukan subversif. Bentuk protes sekaligus di dalamnya ada mimpi bagi yang mengerti,” ujar Andi Arief dalam keterangannya di akun X (Twitter) miliknya, Senin (4/8).

Pernyataan itu muncul setelah beredarnya sejumlah foto dan video di media sosial yang menunjukkan bendera bajak laut dari serial anime One Piece—bergambar tengkorak memakai topi jerami—dikibarkan di beberapa tempat, termasuk di sela aksi demonstrasi dan mural jalanan. Bagi sebagian kalangan, simbol itu dianggap aneh, bahkan mencurigakan. Tapi bagi yang mengikuti budaya populer dan memahami narasi di baliknya, simbol itu justru sarat makna perjuangan, mimpi, dan kebebasan.

Andi Arief menggarisbawahi bahwa simbol Merah Putih adalah lambang mimpi yang sudah diperjuangkan dan diraih bangsa Indonesia. Namun, menurutnya, mimpi itu belum seluruhnya menjadi kenyataan. “Merah Putih itu mimpi yang sudah didapat, tapi belum seluruhnya. Masih harus terus dikibarkan,” tegasnya.

Dalam konteks itu, bendera One Piece tidak dilihat Andi sebagai bentuk perlawanan terhadap negara, tetapi sebagai pengingat bahwa perjuangan belum selesai. “Kalau ada yang mengibarkan simbol itu di tempat publik atau dalam konteks protes sosial, kita harus menafsirkan secara lebih bijak. Bukan langsung menuduh subversif,” ujarnya.

Serial One Piece, yang diciptakan oleh Eiichiro Oda, berkisah tentang kelompok bajak laut Topi Jerami yang dipimpin Monkey D. Luffy. Meski disebut “bajak laut”, mereka digambarkan sebagai kelompok yang berjuang melawan tirani, ketidakadilan, dan kekuasaan yang korup. Dalam semesta One Piece, Pemerintah Dunia adalah simbol dari dominasi dan penindasan. Luffy dan kawan-kawan justru merepresentasikan mimpi, harapan, dan solidaritas.

Bendera Topi Jerami, yang kini kerap muncul dalam aksi-aksi sosial, menjadi semacam code budaya: simbol perjuangan yang tidak tunduk pada kekuasaan sewenang-wenang.

Fenomena ini bukan yang pertama. Dalam beberapa tahun terakhir, simbol-simbol dari budaya populer—seperti topeng Guy Fawkes dari film V for Vendetta atau salam tiga jari dari The Hunger Games—juga digunakan dalam berbagai gerakan sosial global. Mereka tidak lagi hanya milik dunia hiburan, tetapi menjelma sebagai bahasa protes lintas generasi.

Andi Arief, yang dikenal kerap menggunakan pendekatan kebudayaan dalam menilai dinamika politik, melihat hal ini sebagai hal positif. “Daripada mengibarkan simbol ideologi asing yang benar-benar bertentangan dengan Pancasila, lebih baik mereka mengekspresikan mimpi lewat simbol yang bisa membangkitkan kesadaran kolektif,” katanya.

Meski demikian, Andi tetap mengingatkan bahwa Merah Putih harus tetap menjadi bendera utama perjuangan bangsa. Namun ia juga mengajak publik, khususnya aparat dan elite politik, untuk tidak terlalu cepat menstigma ekspresi simbolik anak muda. “Kita harus mendidik, bukan memusuhi. Mengerti konteks, bukan sekadar menegur bentuk,” jelasnya.

Ia pun mengajak masyarakat melihat momentum ini sebagai refleksi: apakah Merah Putih benar-benar sudah dikibarkan dalam arti mimpi dan keadilan? “Kalau mimpi itu belum dirasakan semua orang, wajar jika orang mencari simbol alternatif. Tapi bukan berarti mereka mengingkari Merah Putih,” tuturnya.

Pernyataan Andi Arief mengingatkan bahwa simbol, betapa pun sederhananya, selalu memiliki tafsir. Di era krisis identitas, ketimpangan ekonomi, dan erosi kepercayaan terhadap elite politik, simbol bajak laut dalam One Piece mungkin lebih mudah menyentuh hati generasi muda ketimbang jargon formal kenegaraan.

“Yang subversif itu bukan bendera One Piece, tapi ketidakadilan yang terus dibiarkan,” pungkas Andi Arief.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *