MoneyTalk, Jakarta – Sukarno mendapat julukan “Singa Podium”. Berhasil membangunkan jiwa dan badan rakyat untuk merdeka, bersatu dan berdaulat. Suharto menampilkan diri seperti “Harimau Jawa”. Berhasil menggenjot pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga diakui dunia sebagai “Macan Asia”.
“Singa Sukarno” dan “Harimau Suharto” kepemimpinannya diakui. Kebijakannya banyak kontroversi tapi kemudian dihargai. Setelah pergi, keduanya dirindukan. Karena legacy Sukarno menyatukan dan memperluas wilayah Indonesia. Dan warisan Suharto menguatkan dan memperluas wilayah Indonesia.
Alam Reformasi membuat Indonesia hanya menghasilkan pemimpin “Jenis Herbivora”. Mangsa dari raksasa ekonomi dunia; Amerika Serikat, China dan Jepang. Pasar yang terlalu mudah untuk diobok-obok negara manapun; Korea Selatan, Taiwan dan Thailand. Rakyat yang bangga memakai produk asing dan bercita-cita liburan ke Jeddah, Mekah dan Madinah.
Pemimpin “Kelas Kambing” di era Reformasi ini juga tidak dapat mempertahankan luas wilayah Indonesia dengan lepasnya Timor Timur serta Pulau Sipadan dan Ligitan. Bahkan Malaysia kini ingin memperluas lautnya menjorok ke Indonesia di Laut Ambalat. Dan China kini ingin menguasai Laut Natuna yang jaraknya 800 km dari daratannya.
Rakyat Indonesia merindukan Sukarno. Pemimpin yang berani memulangkan orang-orang China di Indonesia kembali ke negaranya, dengan isu dwikewarganegaraan. Sementara Jokowi yang mengaku Sukarnois justru mendatangkan tenaga kerja China dalam jumlah yang sangat besar, dengan isu kekurangan tenaga terampil.
Rakyat Indonesia merindukan Jenderal Suharto. Pemimpin yang membuat Malaysia tidak berani memaksakan penguasaan Pulau Sipadan dan Ligitan. Karena takut dengan Suharto. Tapi Jenderal SBY mendapat julukan “Kerbau” dari aktifis karena badannya yang besar tapi nyalinya yang kecil (menangani ekspansi wilayah dari Malaysia).
Naiknya Jenderal Prabowo memberi harapan rakyat yang ingin Indonesia maju dan disegani negara lain. Hampir semua rakyat menilai Prabowo seperti pemimpin “Jenis Karnivora”. Karena berasal dari pasukan elit dan memiliki suara keras, sikap tegas dan berani.
Namun setelah hampir setahun kepemimpinan Prabowo, rakyat masih menerka-nerka pengandaian binatang apa yang pas untuknya. Karena Prabowo tidak bersuara keras agar Undang-Undang Perampasan Aset milik koruptor disahkan. Prabowo tidak bersikap tegas terhadap korupsi sehingga korupsi terus terjadi di pemerintahannya. Dan Prabowo tidak berani berinisiatif membuat aturan hukuman mati bagi para koruptor, seperti di China.
Korupsi menjadi permasalahan yang sangat mendesak untuk ditangani. Karena koruptor itu seperti tikus yang menggerogoti dari dalam. Untuk mempermudah pihak swasta Aseng atau Asing menguasai dari luar. Semua tikus yang paling berbahaya ada di dalam pemerintahan. Tapi kenapa mereka tetap berani korupsi?
Mungkin mereka yang di dalam melihat dengan jelas dan memahami bahwa pemimpin mereka saat ini bukan seperti Singa atau Harimau. Walaupun bukan juga seperti “Jenis Herbivora”. Mungkin Prabowo dianggap mereka seperti “Kucing”. Tapi juga bukan kucing hutan atau kucing liar yang berani memburu tikus. Mungkin lebih tepatnya seperti kucing “Bobby Kertanegara”.
Penulis : Nirmal Ilham, eks Tenaga Ahli DPR RI




