MoneyTalk, Jakarta – Politikus senior sekaligus wartawan kawakan Panda Nababan kembali menggebrak. Dalam podcast Keadilan TV yang tayang Senin (22/09), Panda menguliti warisan kelam Sri Mulyani dan memperingatkan bahwa Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa, akan menghadapi jalan terjal penuh ranjau.
“Sri Mulyani meninggalkan bom waktu! Ada putusan Mahkamah Agung yang sudah inkrah, pemerintah wajib bayar Rp100 miliar ke perusahaan rakyat di Riau. Itu hak rakyat, tapi sampai hari ini tidak dibayar,” tegas Panda.
Panda menyingkap fakta mencengangkan: utang pemerintah kepada rakyat yang pernah jadi penyelamat devisa Indonesia bisa mencapai Rp10 triliun.
“Ahli warisnya sekarang hidup sengsara. Ada yang janda, umur 70-an, ongkos ke Jakarta pun tak punya. Padahal Mahkamah Agung sudah memutuskan uang itu harus dikembalikan,” ungkap Panda dengan nada getir.
Ia bahkan mengutip ucapan keluarga korban saat ziarah ke rumah Sri Mulyani, “Itulah karma Sri Mulyani. Uang rakyat tak dikembalikan, penderitaan diabaikan.”
Tak berhenti di situ, Panda juga membongkar busuknya Direktorat Jenderal Pajak dan Bea Cukai.
Menurutnya, institusi itu masih jadi lahan empuk pemerasan. “Wajib pajak diperas miliaran, kalau menolak, diblacklist, diperiksa sampai habis-habisan. Itu terjadi di era Dirjen Pajak Surya Utomo, yang ternyata sepupu Sri Mulyani,” ujarnya.
Di sisi lain, Bea Cukai pun disebut masih dikuasai mafia. “Semua pelabuhan sudah di kapling. Barang selundupan masuk lewat pelabuhan tikus, minuman impor jadi ladang pemerasan. Dirjen sekarang, Jaka Budi Utama, harus berani bersih-bersih. Kalau tidak, dia hanya jadi stempel mafia,” kata Panda.
Menurut Panda, Purbaya harus belajar dari teladan masa lalu seperti Mar’ie Muhammad (Menkeu era Soeharto) dan Tahir (mantan Dirjen Bea Cukai).
“Kalau Purbaya cuma ikut arus, rakyat tak akan percaya. Dia harus buktikan dirinya bisa jadi panutan, bukan sekadar pembagi kue kekuasaan,” sindir Panda.




